Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Belanda Tangkap Sukarno Atas Tuduhan Makar

Rabu 22 May 2019 05:17 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Sukarno

Sukarno

Foto: Gahetna.nl
Saat krisis ekonomi Sukarno dan pejuang lain melawan pemerintah kolonial Belanda

Rentetan aksi pada Mei 1998 terjadi karena krisis ekonomi hebat melanda Indonesia. Saat itu tak hanya Indonesia yang dihantam krisis, sejumlah negara dunia juga mengalami hal serupa. Krisis semacam ini juga pernah terjadi pada masa kolonial Belanda. Menyusul terjadinya depresi hebat di Amerika Serikat pada musim gugur 1929.

Krisis ekonomi di AS dimulai dari Wall Street sebagai pusat bursa dan perdagangan AS. Krisis ini dengan cepat menjalar ke berbagai negara. Jerman bangkrut dan rakyatnya berpaling pada Adolf Hitler. Inggris terpaksa melemparkan cadangan emasnya.

Di AS sendiri produksi menurun dengan amat cepat dan banyak pabrik tutup. Beribu-ribu penganggur rela antre untuk mendapatkan jatah ransum. Karena hasil pertanian tidak lagi menutupi biaya produksi, para petani sepakat tolak bayar pajak dan membuang ke laut surplus hasil pertaniannya.

Di Tanah Air kehidupan rakyat makin sulit dan kelaparan di mana-mana, sementara seorang pemuda bernama Sukarno dan para pejuang lainnya meningkatkan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Dengan tuduhan menggerakkan rakyat untuk melakukan pemberontakan dan makar, Sukarno pun ditangkap dan dijebloskan ke penjara (Desember 1929).

Pemberitaan menyebut krisis ekonomi hebat ini sebagai zaman malaise. Para pejuang kemudian memplesetkannya jadi ‘zaman meleset’ dan menjadi ucapan sehari-hari masyarakat kala itu. Seperti saat ini, pengangguran dan PHK terjadi di mana-mana.

Di Sumatra Timur misalnya, beribu-ribu kuli perkebunan menganggur. Pegawai negeri banyak yang dilepas, sedangkan yang tidak dipecat hanya menerima gaji separuh. Begitu sulitnya kehidupan sehingga mencari uang sebenggol atau segobang (dua setengah sen) saja sangat sulit.

Ketika menghadapi ejekan Belanda bahwa bumi putera hidupnya hanya sebenggol sehari, Sukarno pun membalasnya bahwa Belandalah yang harus bertanggungjawab atas keadaan yang sangat menyedihkan ini. Berikut kutipan laporan wartawan Kwee Tek Hoay yang dimuat majalah Mustika Romans edisi Februari 1933 dengan ejaan Melayu-Cina.

”Malaise atawa economisch depressie sudah mendatangkan kesengsaraan heibat pada manusia dan seluruh dunia.”

Dilaporkan seorang hartawan bernama Khong di Semarang yang memiliki kekayaan jutaan gulden, dan tiap bulan paling sedikit meraup keuntungan 50 ribu gulden, ludes dan jatuh miskin. Rumah-rumah sewaan dan onderneming (perkebunan)-nya musnah karena disita oleh bank, seperti dialami para konglomerat sekarang ini.

Mustika Romans juga memberitakan, seorang pemuda bernama Soey Liang, seorang boekhouder (ahli pembukuan/tata buku), yang bekerja di salah satu perusahaan importir milik Amerika di Batavia gajinya diturunkan dari 200 gulden jadi 100 gulden. Hingga pemuda ini gagal melangsungkan pernikahan karena gaji bukan saja tidak mencukupi, tetapi masa depan juga suram.

Dia dan sebagian besar masyarakat harus lebih menggencangkan ikat pinggang, dan mengadakan bezuininging (penghematan). Sebuah perusahaan besar di Surabaya terpaksa harus mem-PHK para pegawainya. Termasuk sejumlah stafnya yang bergaji besar telah di-onslag (diberhentikan) karena tidak sanggup membayar gajinya. Termasuk seorang asing dijajaran stafnya dengan gaji 400 gulden perbulan.

Seorang pekerja dari Singapura pada perusahaan Inggris di Batavia dengan gaji 250 gulden juga kena PHK. Yang menyedihkan ia hanya diberi pesangon satu bulan gaji. Maklum, kala itu nasib dan hak-hak buruh sangat menyedihkan.

Saat itu banyak perusahaan waktu itu yang failliet atau bangkrut. Hingga tidak terhitung banyaknya werkloos (pengangguran). Oen Kwse Djit, seorang hartawan terkenal di Betawi perusahaannya jatuh hingga mengubah profesinya jadi pedagang keliling ke kampung-kampung Cina. Ia memikul dagangannya berupa tauwhu (tahu), tauwkwa (tahu yang dipotong persegi dan agak berair) dan tauwge (toge).

TENTANG PENULIS
ALWI SHAHAB, wartawan senior Republika yang akrab dipanggil Abah Alwi. Sejarawan dan penulis sejumlah buku sejarah tentang Batavia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA