Monday, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

Monday, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

Kala Warga Batavia Berduyun-duyun Menonton Hukuman Pancung

Selasa 12 Feb 2019 13:29 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Museum Sejarah Jakarta atau Standhuis.

Museum Sejarah Jakarta atau Standhuis.

Foto: Tangkapan Layar.
Hukuman pancung saat itu dilakukan dengan menggunakan 'Pedang Keadilan'.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Ketika saya ikut memandu sekitar seratus mahasiswa Universitas Trisakti beberapa tahun lalu, mereka sangat antusias menyaksikan sebuah pedang tua yang terdapat di lantai dua Museum Sejarah Jakarta. Pedang yang tampak kehitaman karena tuanya itu tersimpan di sebuah tempat jam di sudut kanan gedung yang telah berusia lebih dari tiga abad.

Melihat pedang yang panjangnya lebih satu setengah meter itu saya meyakini sang algojo mestilah seorang yang kuat tenaganya. Namun saya tidak dapat menjawab ketika banyak pertanyaan, berapa kepala yang terpenggal oleh ayunan ‘pedang keadilan’ itu.

Pada 6 Juni 1629, seorang perwira muda VOC berusia 16 tahun bernama Contenhoeff pernah dihukum pancung di halaman muka Balai Kota (kini Museum Sejarah Jakarta) dengan pedang itu. Karena, perwira tampan ini poatang (ketahuan) saat berhubungan badan dengan Saartje Specx (12 tahun), puteri pedagang senior Jacques Specx, dari hasil ‘kumpul kebo’ dengan wanita Jepang.

Kedua sejoli itu, atas permintaan gubernur jenderal JP Coen, dihukum berat. Saartje disiksa di halaman yang sama.

Pada tahun 1630 pemerintah kolonial di Negeri Belanda melarang untuk mengirim wanita Belanda ke Asia. Suatu perkecualian dibuat bagi pegawai tinggi yang diizinkan membawa istri dan anak-anak mereka. Akibatnya adalah suatu masyarakat dengan banyak lelaki dan hanya sedikit wanita berkulit putih.

photo

Pedang Keadilan yang tersimpan di Museum Sejarah Jakarta

Karena itulah mereka mengawini para wanita untuk dijadikan nyai, dan lahirlah banyak keturunan Indo-Belanda. Di Batavia orang Belanda memakai istilah 'mestizen' untuk orang berdarah campuran antara Asia dan Eropa. Mereka memakai bahasa Portugis, umumnya bahasa di abad ke-19 di Batavia.

Sejarawan Belanda, Hans Bonke, menyebutkan, janda-janda kaya dari pegawai Kompeni sangat disukai sebagai istri seorang bujangan yang ambisius. Dengan demikian terjadi hubungan keluarga di antara keluarga-keluarga penting yang mempengaruhi masa depan seseorang.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA