Friday, 19 Ramadhan 1440 / 24 May 2019

Friday, 19 Ramadhan 1440 / 24 May 2019

Monas dan Simbol Kebesaran Bangsa

Ahad 02 Dec 2018 10:18 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Ribuan umat Islam mengikuti Reuni 212 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu (2/12).

Ribuan umat Islam mengikuti Reuni 212 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu (2/12).

Foto: Yasin Habibi/ Republika
Monas dibangun saat perekonomian Indonesia sedang morat-marit.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Hari ini, 2 Desember 2018 Lapangan Monumen Nasional (Monas), alumni 212 menggelar Reuni Akbar. Monas menjadi titik kumpul karena dianggap sebagai simbol kebesaran bangsa. Menilik ke belakang, Monas dibangun pada masa pemerintahan Presiden Sukarno sebagai proyek monumental.

Saat dimulainya proses pembangunan Monumen Nasional (Monas) yang megah itu, entah berapa kali Presiden Soekarno mendatangi proyek monumental ini. Dia selalu didampingi sang arsitek, sekaligus sebagai direksi pelaksana. Perhatian besar Bung Karno terhadap pembangunan Monas karena dia sebagai ketua umum proyek.

Saat-saat sibuknya pembangunan Monas awal 1960-an, presiden pertama RI itu membuat pernyataan tertulis yang ditujukan kepada seluruh bangsa: ”Kita membangun Tugu Nasional untuk kebesaran Bangsa. Saya harap, seluruh Bangsa Indonesia membantu pembangunan Tugu Nasional ini.”

Tapi, menjelang berakhirnya kekuasaan Bung Karno, setelah peristiwa G30S, para mahasiswa dan pemuda yang meminta Bung Karno turun menganggap Monas sebagai proyek mercusuar. Yang dibantah keras Bung Karno dan dikatakan Monas simbol kebesaran bangsa. Maklum ketika itu, ekonomi Indonesia memang tengah morat-marit, dihantui naiknya harga-harga dan melonjaknya inflasi.

Monas dengan tugu setinggi 115 meter dengan lidah api berbentuk kerucut tinggi 14 meter, pada saat musim liburan sekarang ini ratga-rata dikunjungi tidak kurang 5.000 orang per hari. Sedang di hari Ahad pengunjungnya membludak hampir 10 ribu orang. Tidak heran pengunjung harus rela antre antara dua sampai tiga jam untuk menaiki puncak Monas sambil menikmati pemandangan seluruh Ibu Kota dan Jabotabek.

Akibat banjirnya pengunjung, bukan hanya anak-anak sekolah tapi juga orang dewasa, terpaksa pihak pengelola Monas harus bekerja sampai malam karena pengunjung terus berdatangan. Sementara lift hanya dapat mengangkut 11 orang pengunjung. Pengunjung ada yang datang dari Papua, Kalimantan dan Sulawesi, di samping para wisatawan asing.

Dalam foto tampak penggalian tanah untuk keperluan jalan di sekiling tugu nasional, sementara pembangunan tugu masih belum selesai. Monas setelah penyerahan kedaulatan (1950) dinamakan lapangan Merdeka. Karena ketika Bung Karno datang dari Yogyakarta, sejak dari Bandara Kemayoran sampai Istana Merdeka dia disambut dengan ratusan ribu massa rakyat yang berseru: Merdeka, Merdeka. Maka sejak itu bernama Lapangan Merdeka dan di depannya Istana Merdeka.

Lapangan Merdeka (Monas) yang pada masa Belanda bernama Koningsplein dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels. Monas yang luasnya 100 hektare (satu juta m2), konon merupakan lapangan paling luas di seluruh kota-kota dunia. Lapangan Monas enam kali lebih besar dari Trafalgar Square di London yang kesohor itu. Dia juga lebih besar dari lapangan Arc de Triomphe de L’ Etoile, di Paris. Jauh lebih besqr dari lapangan gereja Santo Pietro, Roma.

Tempat ribuan jamaah Katolik berkumpul bertatap muka dengan Paus di atas balkon sambil melambai-lambaikan tangannya. Lapangan batu ini hanya sebesar Lapangan Banteng, Jakarta. Demikian juga dengan Lapangan Merah Moskow yang luasnya hanya 2/3 lapangan Monas. Salah satu alasan dipilihnya lapangan ini untuk Tugu Nasional karena luasnya yang cukup ideal itu. Di samping letaknya di jantung Ibu Kota.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA