Jumat, 19 Ramadhan 1440 / 24 Mei 2019

Jumat, 19 Ramadhan 1440 / 24 Mei 2019

Maulid Nabi Muhammad

Pengalaman Rayakan Maulid Nabi di Arab Saudi

Jumat 23 Nov 2018 11:01 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Rasulullah

Rasulullah

Foto: Republika/Mardiah
Banyak umat Islam Indonesia yang bermukim di Arab Saudi sejak abad ke-19.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Pada abad ke-19, banyak ulama Betawi yang belajar di Arab Saudi atau negara Arab lainnya. Keturunan Arab juga mengirimkan anaknya ke Turki pada masa Utsmani. Waktu itu muncul Gerakan Pan Islam, yang oleh Belanda, melalui pendapat Prof C Snock Horgronje, dianggap sebagai gerakan berbahaya bagi kelangsungan penjajahan.

Pada 1939, ketika rombongan jamaah haji ke Tanah Suci, kemudian terjadi Perang Dunia II. Mereka tidak bisa pulang ke Tanah Air karena zona laut dinyatakan sebagai daerah peperangan.

Raja Saud memberikan izin kepada para jamaah yang tertahan akibat peperangan untuk tinggal di negaranya. Sebelumnya (sejak masa Syarif Husein), banyak warga Indonesia, termasuk ulamanya, menjadi mukmin di negara itu. Banyak ulama Betawi yang belajar pada Sayid Alawi al-Maliki, ayah dari Sayid Muhamad Muhammad al-Maliki, yang kerap berkunjung ke Indonesia sebelum wafat beberapa tahun lalu.

Ketika saya umrah pada 2002 bersama tokoh ulama dari Jakarta dan Surabaya, kami datang ke kediaman Sayid Muhammad al-Maliki, sedikit di luar Kota Makkah. Kami Shalat Maghrib hingga Isya diselingi ratiban dan pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang sebetulnya tabu.

Dan yang menarik, acara ratiban dan maulid ini dihadiri sejumlah ulama dari Afrika dan negara Asia lainnya. Setelah itu, kami bersama dengan ratusan jamaah dari mancanegara makan nasi kebuli yang dihidangkan pada nampan, seperti di Majelis Taklim Kwitang atau majelis taklim lainya.

Di sini, saya dapati sekitar 200 pelajar dari Indonesia. Termasuk para mukimin yang telah tinggal selama puluhan tahun di Arab Saudi, menjadi warga negara kerajaan. Rupanya, Kerajaan Arab Saudi tidak menghalangi kegiatan keagamaan di Majelis Al-Maliki yang telah berlangsung sejak leluhur meski bertentangan dengan paham kerajaan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA