Tuesday, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Tuesday, 18 Sya'ban 1440 / 23 April 2019

Penutupan Alexis dan Warisan Bisnis Prostitusi Era Belanda

Kamis 29 Mar 2018 06:26 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Suana tempat pelacuran di pinggiran Jakarta tahun 1948(16/2).

Sejumlah PSK dan pasangan diluar nikah terjaring razia di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Foto:
Sejak Belanda berkuasa di Indonesia, bisnis prostitusi sulit dihilangkan.

Seperti Mangga Besar yang berdekatan Glodok sekarang, sejak dahulu tempat operasi WTS selalu dekat dengan kawasan niaga dan perhotelan. Tempat konsentrasi pelacur pertama di Batavia adalah Macao Po yang kala itu berdekatan dengan hotel-hotel di depan Stasion Beos (Jakarta Kota). Lokalisasi pelacuran ini memang untuk kalangan atas alias mereka yang berkantong tebal. Karena para pelacurnya didatangkan dari Makau oleh jaringan germo Portugis dan Cina.

Seperti juga sekarang ini, banyak klub malam yang menghadirkan penghibur dan pelacur dari Hongkong, Taiwan, Filipina, dan berbagai negara lain. Di Macao Po para pejajannya adalah para petinggi VOC yang dikenal korup dan taipan atau orang berduit keturunan Cina.

Di dekat Macao Po, masih di kawasan Glodok, terdapat pelacuran kelas rendah, Gang Mangga. Tidak heran kalau sakit ‘perempuan’ kala itu disebut ‘sakit mangga’. Kemudian, dikenal dengan sebutan raja singa atau sifilis. Pada abad ke-19, sifilis termasuk penyakit yang sulit disembuhkan karena saat itu belum ditemukan antibiotik. Penyakit itu mungkin bisa dikatakan seragam dengan AIDS/HIV sekarang ini yang sudah menginfeksi sekitar 130 ribu hingga 150 ribu orang di Indonesia yang 80 persen di antaranya usia produktif 15-29 tahun.

Kompleks pelacuran Gang Mangga ini kemudian tersaingi oleh rumah-rumah bordir yang didirikan orang Cina, yang disebut soehian. Lokalisasi ini ditutup pada awal abad ke-20 karena sering terjadi keributan. Namun, kata soehian tidak pernah hilang dalam dialek Betawi untuk menunjukkan kata sial. Dasar suwean (sialan).

Setelah penyerahan kedaulatan, kompleks pelacuran terdapat di berbagai tempat di Jakarta. Seperti Gang Hauber di Petojo yang terdiri atas Gang Hauber I, II, dan III, yang oleh Wali Kota Sudiro pada pertengahan 1950-an diganti Gang Sadar. Namun, si pelacur dan laki-laki hidung belang tidak sadar-sadar karena sampai awal 1980-an masih beroperasi.

Di Sawah Besar terdapat kompleks pelacuran Kaligot, mengambil nama sandiwara Prancis Aligot yang pada 1930-an manggung di Batavia. Sedangkan, di daerah Senen terdapat kompleks pelacuran Planet. Nama planet ini diambil ketika terjadi persaingan antara AS dan Uni Soviet untuk meluncurkan sputnik ke Planet pada 1960-an. Spuntik adalah misi dikirimnya pesawat luar angkasa oleh Uni Soviet. Pesawat pertama, Spuntik I, mengirim objek buatan manusia pertama ke orbit Bumi. Peluncuran ini dilaksanakan pada 4 Oktober 1957.

Selain Planet Senen, ada juga tempat pelacuran Malvinas di Bekasi yang menjulang saat terjadi perang antara Inggris dan Argentina memperebutkan kepulauan Malvinas (Folkland) di pada 1980-an. Di Planet Senen, pelacuran kelas bawah ini berlangsung di gerbong-gerbong kereta api antara Stasiun Senen hingga Jl Tanah Nyonya (Gunung Sahari) yang panjangnya beberapa ratus meter. Selain itu, operasi juga ngamar di rumah-rumah kardus dekat rel kereta api.

photo

Ali Sadikin

Tempat pelacuran yang tiap hari didatangi ribuan orang ini dibersihkan pada masa Gubernur Ali Sadikin (1971). Pekerja seksnya dipindahkan ke Kramat Tunggak, Jakarta Utara. Sebelum ditertibkan Bang Ali, di sekitar Senen dari depan Bioskop Rivoli di Palputi hingga depan Bioskop Grand (Kramat), ratusan becak berseliweran dengan muatan para pelacur.

Hiburan bergengsi di Jakarta baru dimulai pada masa Ali Sadikin. Dipelopori tokoh perfilman Usmar Ismail yang mendirikan klub malam Mirasa Sky Club di puncak Gedung Sarinah di Jl Thamrin. Setelah ini berjamuran puluhan klub malam, panti pijat, diskotek, pub, salon, dan lokalisasi liar muncul di Jakarta. Striptis yang sebelumnya hanya bisa dinikmati di Singapura hadir pula di panggung Jakarta. Sebelumnya Jakarta sempat dijuluki the Big Village atau Kampung Besar.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA