Rabu, 13 Rajab 1440 / 20 Maret 2019

Rabu, 13 Rajab 1440 / 20 Maret 2019

Jodoh di Tangan Hansip

Rabu 20 Feb 2019 10:17 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Ilustrasi petugas hansip.

Ilustrasi petugas hansip.

Foto: Antara/Yudhi Mahatma
Sepasang kekasih yang ketauan hansip berduaan zaman dulu, akan dikawinkan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Masyarakat Tionghoa telah merayakan tahun baru Imlek pada 5 Februari kemarin. Meski sudah berlangsung lebih dari dua pekan, tapi suasana pergantian tahun masih terasa. Di tempo doeloe Imlek dirayakan sampai dengan pesta cap go meh (Cap Gouw Meh), yakni malam ke-15 setelah Imlek. Cap go meh merupakan pesta rakyat semalam suntuk yang secara bergantian diadakan di berbagai tempat di Jakarta.

Pesta Imlek di Betawi tempo doeloe punya kekhasan sendiri, tidak sama dengan Imlek di lain-lain negara. Di Betawi sangat kental dengan variasi lokal, yang tidak bakalan ditemukan di mana juga di seantero dunia.

Salah satu yang menarik dari perayaan cap go meh adalah ajang merayu calon mertoku alias calon mertua. Menjadi satu kemustian bagi calon mantu untuk membawakan ikan bandeng dan kue cina pada calon mertoku. Berarti si calon mantu benar-benar menghargai calon mertuanya.

Jangan main-main, calon mantu yang kagak membawanya, anteran bisa di-onslaag jadi mantu. Itulah kebiasaan tempo doeloe di mana orang tua punya hak prerogatif terhadap anak gadisnya.

Pasar malam tempo doeloe juga jadi ajang untuk cuci mata. Saat itu, gadis-gadis Tionghoa masih dipingit. Mereka tidak boleh keluar rumah dan terima tamu pria. Kalau sekarang ada istilah 'jodoh di tangan Hansip' akibat begitu bebasnya pergaulan. Sepasang kekasih yang kepergok Hansip berduaan, akan dikawinkan.

Waktu dulu sangat sulit buat perjaka dan gadis untuk saling ketemu. Apalagi memilih jodoh sendiri. Cuma di pasar malam dan pada malam cap go meh saja para gadis boleh keluar rumah. Itu pun dengan kawalan ketat keluarga yang lebih tua. Seperti diceritakan David Kwa, kesempatan itu biasanya diatur sesudah melewati pukul 12 tengah malam.

Menurut penuturan orang tua di permulaan abad ke-20, beberapa hari sebelum Imlek orang sudah sibuk membersihkan rumah masing-masing sebersih-bersihnya. Pintu dan jendela dicat, tembok dikapur, ubin dan perabotan rumah digosok sampai mengkilap.

Nyonya-nyonya rumah pada repot bikin kue kering, salah satunya yang sangat disuka kue satu. Kue ini terbuat dari kacang ijo yang digerus. Para nyonya rumah juga kagak lupa bikin ager-ager, manisan buah atep dan manisan buah ceremai.

Dalam menyambut Imlek, warga Tionghoa Betawi punya tradisi yang unik. Dengan digelarnya pasar malam beberapa hari menjelang Imlek.

Di pasar malam ini disediakan keperluan mereka yang ingin berbelanja. Letaknya kala itu di sekitar lapangan Glodok dan Pancoran. Di sini juga orang menjual ikan bandeng dan kue Cina —dua sekawan keperluan yang selalu dicari pada saat Imlek.

Beberapa hari jelang cap go meh (malam ke-15 setelah Imlek), rombongan pemain Tanjidor yang berasal dari Portugis berdatangan ke Jakarta, khususnya ke daerah yang banyak warga Tionghoanya. Mereka yang datang dari Karawang, Bekasi, Tambun, dan Cikarang, beranggotakan 8 sampai 10 orang, mendatangi rumah-rumah Tionghoa untuk ngamen.

Satu dua hari menjelang capgomeh berbagai tontonan seperti gambang kromong dengan wayang cokeknya digelar di sejumlah tempat. Mereka menyanyikan lagu-lagu berirama Cina dan Betawi.

Di hari cap go meh biasanya tidak lupa orang mengarak atau menggotong topekong. Menurut David Kwa, ”ini ritual dimaksudkan untuk menjaga keselamatan seantero penduduk dari gangguan setan dan iblis.”

Dalam keramaian itu tidak lupa dimainkan langliong (tari naga) dan lang-saij (tari singa atawa barongsai) dari berbagai boe-koan (perkumpulan silat) yang ada di Betawi. Pertunjukan itu, kata David Kwa, guna menolak berbagai pengaruh jahat yang selama setahun tidak keburu dibersihkan dan untuk mengundang keberuntungan. Liong (naga) dan saij (singa) merupakan binatang yang menurut kepercayaan Tionghoa dianggap membawa keberuntungan dan mengusir kesialan. Gongxi Facai (selamat menjadi kaya).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA