Sunday, 17 Rajab 1440 / 24 March 2019

Sunday, 17 Rajab 1440 / 24 March 2019

Kurang Afdal Maulid Nabi tanpa Nasi Kebuli

Selasa 20 Nov 2018 07:37 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Nasi Kebuli

Nasi Kebuli

Foto: Antara
Nasi kebuli selalu dihidangkan pada maulid Nabi, terutama di kalangan keturunan Arab.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Bagi warga Betawi, hari lahir (maulid) Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bukan hanya dirayakan pada Rabiul Awwal, bulan kelahiran Kanjeng Nabi. Di masjid-masjid tradisional, orang merayakannya sampai dua atau tiga bulan sesudahnya. Bahkan saat khitanan dan pernikahan, kitab maulid selalu dibacakan.

Nasi kebuli merupakan menu yang selalu dihidangkan pada peringatan maulid Nabi, terutama di kalangan keturunan Arab. Hidangan nasi kebuli dianggap kurang afdal tanpa daging kambing. Entah berapa puluh ribu ekor kambing dipotong untuk hidangan nasi kebuli. Daging kambing dijadikan kari, gulai, semur dan masakan lainnya.

Habib Umar bin Hud Alatas, saat peringatan maulid Nabi di kediamannya, Cipayung, Bogor, telah memotong 1.500 ekor kambing dan menanak tidak kurang dari 10 ton beras. Jumlah sebanyak itu mungkin bisa masuk Rekor Museum Indonesia (Muri). Tidak heran, saat Habib Umar masih hidup, acara maulidnya bisa menyedot puluhan ribu jamaah, termasuk para tamu yang datang dari Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.

Pada awal 1960-an, ketika Habib Umar dan keluarganya kembali dari tanah suci, terjadi konfrontasi antara RI dan Malaysia. Kala itu mereka tengah berada di Singapura, yang masih bergabung dengan Malaysia. Selama lima tahun di Singapura dan Malaysia, Habib Umar dengan ajaran-ajarannya dapat memikat umat Islam di sana.

Setelah konfrontasi berakhir (akhir 1965), Habib Umar kembali ke Jakarta. Ratusan muridnya selalu datang ketika ia menyelenggarakan acara peringatan maulid Nabi. PM Tun Razak dan PM Mahathir Muhammad bila ke Jakarta selalu mampir ke kediaman Habib Umar, saat tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Acara maulid Nabi yang juga dihadiri puluhan ribu jamaah juga terjadi di Majelis Taklim Habib Ali, Kwitang, Jakarta Pusat.

Selama masih hidup, Habib Ali Alhabsyi (wafat pada 1968 dalam usia 102 tahun) telah menyelenggarakan acara maulid Nabi di Kwitang selama 51 tahun tanpa henti. Sedangkan putranya, Habib Muhammad, telah 26 kali mengadakan acara maulid Nabi. Tahun ini, untuk yang ke-15 kalinya, acara maulid Nabi di Kwitang dipimpin Habib Abdurahman, cucu Habib Ali.

Sejak puluhan tahun lalu, hidangan maulid Nabi di Kwitang tidak pernah berubah: nasi kebuli. Jauh sebelum itu, hidangan maulid Nabi dan hidangan perkawinan serta pernikahan di kalangan masyarakat keturunan Arab hampir tidak pernah berubah —selalu ada nasi kebuli.

Tetapi, apakah benar nasi kebuli berasal dari Hadramaut, tempat hampir segenap warga keturunan Arab di Indonesia, Malaysia dan Singapura, berasal. Mengingat makanan pokok masyarakat Arab sendiri, baik di Hadramaut maupun negara Arab lainnya, adalah roti dan gandum.

Ceritanya, pada awal kedatangan mereka dari Hadramaut lebih dulu mampir dan bahkan banyak yang tinggal bertahun-tahun di Gujarat, India. Saat itu, Timur Tengah seperti juga India, berada di bawah jajahan Inggris, sedangkan Indonesia berada di bawah kekuasaan Belanda.

Jadi tidak ada masalah dengan paspor. Di Gujarat, sambil berdagang dan menyebarkan agama, mereka tertarik pada masakan India yang banyak bumbunya. Generasi berikutnya yang datang dari Gujarat ke Nusantara juga meneruskan kebiasaan kakek mereka di India membuat nasi yang diberi bumbu-bumbu.

Habib Abdurahman, pimpinan majelis taklim Habib Ali Kwitang, membenarkan pembuatan nasi kebuli diramu dengan bumbu-bumbu. Dia sudah belasan tahun menangani sendiri pembuatannya. Bumbu-bumbunya adalah ketumbar jintan, kapulangi, bawang bombay dan minyak samin yang 99,9 persen berupa mentega susu.

Sekarang ini banyak dijual bumbu nasi kebuli yang sudah siap pakai. Tapi, menurut Habib Abdurahman, perlu keahlian dalam meramunya. Tidak heran kalau banyak yang menyatakan nasi kebuli Kwitang paling enak rasanya. Berasnya produksi Amerika, Thailand atau India.

Di setiap perayaan Maulid Nabi, Majelis taklim Kwitang, biasanya akan memotong paling sedikit 200 ekor kambing. Kegiatan maulid dimulai dengan ziarah ke makam Habib Ali di samping Masjid Kwitang. Maulid pun berlangsung hingga Maghrib, dilanjutkan makan nasi kebuli. Malamnya diadakan hiburan gambus, yang juga telah menjadi tradisi sejak Habib Ali masih hidup.

photo

Nasi kebuli.

Bukan hanya kebulinya yang dibanggakan oleh Habib Abdurahman, tapi kharisa buatannya juga sangat dikenal masyarakat. Kharisa — yang terbuat dari daging kambing sebanyak 5 sampai 7 ekor dimasak sejak malam hingga pukul 04.00 pagi — hingga menjadi seperti bubur.

Kemudian daging kambing yang sudah membubur itu dicampur dengan gandum (haverut). Juga setelah diberi bumbu. Setelah berbentuk hidangan bundar seperti kue lapis, di tengahnya diberi diberi lubang untuk minyak samin. Saat akan disantap terlebih dulu dicocol ke minyak samin.

Makanan tersebut dihidangkan saat sarapan pagi hari Jumat setelah sekitar 200 sampai 300 tamu menginap untuk menyaksikan gambus dan ber-zalim. ”Ayah saya menamakan makanan daging kambing yang telah menjadi bubur itu sebagai makanan sayang istri, karena dapat menambah vitalitas yang tinggi hingga bisa menyenangkan istri,” kata Habib Abdurahman sambil tertawa.

Tidak takut kolestrol dan darah tinggi? ”Orang yang hadir ke acara maulid Nabi banyak yang yakin makan nasi kebuli membawa berkah. Untuk menetralisirnya, tiap hidangan untuk 5 atau 6 orang, dilengkapi asinan yang terdiri dari tomat, nanas dan ketimun,” kata Habib.

Meskipun awalnya berasal dari India, nasi kebuli kini sangat digemari. Terbukti dari banyaknya rumah makan yang menghidangkannya. Di Condet, Jakarta Timur, tidak kurang ada empat rumah makan yang menyediakan nasi kebuli, seperti Abu Salim, Puas, Mukalla dan Musawa.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA