Minggu, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 Desember 2018

Minggu, 9 Rabiul Akhir 1440 / 16 Desember 2018

Jatinegara, Negara Sejati Bentukan Pangeran Jayakarta

Senin 19 Nov 2018 07:11 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Makam Pangeran Jayakarta, Jalan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur, Senin (30/7). (Aditya Pradana Putra/Republika)

Makam Pangeran Jayakarta, Jalan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur, Senin (30/7). (Aditya Pradana Putra/Republika)

Pangeran Jayakarta yang terdesak membangun kekuatan di Jatinegara Kaum.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Kali ini kita mengangkat kembali kisah dari Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur. Kampung yang letaknya 8 km dari terminal Kampung Melayu memang patut untuk dikenang. Karena Pangeran Ahmad Jaketra (Jayakarta), telah memilihnya untuk membangun negara bernama Jatinegara (negara sejati), setelah ia dan para pengikutnya hijrah dari Jakarta Kota.

Ini terjadi pada 31 Mei 1619, atau 382 tahun lalu, ketika ia punya kraton, perkampungan penduduk termasuk masjid — letaknya kini di sekitar terminal angkutan Jakarta Kota — dibumihanguskan VOC. Dari Jatinegara Kaum, pangeran dan para pengikutnya bergerilya, membuat Batavia tidak pernah aman selama 80 tahun.

Sampai kini masih dijumpai peninggalan pangeran. Masjid As-Salafiah dan sebuah tasbih besar yang digantungkan di masjid ini. Dan, yang lebih penting adalah permakaman, tempat makam pangeran, para pengikut dan keluarganya dimakamkan. Komplek itu letaknya masih dalam kompleks masjid.

Saat Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten menyerang Belanda, Jatinegara Kaum memegang peran penting sebagai pos terdepan gerilyawan Banten. Kontak yang terus menerus antara Jatinegara Kaum-Banten terlihat dari kedatangan Pangeran Sanghiyang ke daerah tersebut pada 1660. Disusul oleh Pangeran Sagiri dan Pangeran Sake pada 1682 yang menetap di kampung ini. Keduanya putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten.

Mereka kemudian jadi penyebar Islam andal. Pangeran Sagiri dakwah di sekitar Rawamangun, Kampung (Kp) Jawa, Kampung Lio, Kampung Pulo Kambing dan Kampung Pulojae. Sedangkan Pangeran Sake di Cibarusah, Citereup, Bogor, Cianjur, Sukabumi, Bekasi dan Karawang.

Kalau Pangeran Sagiri dimakamkan di Jatinegara Kaum, saudaranya di Kabupaten Bogor. Karena itulah para keturunan Pangeran Jayakarta, Pangeran Sake dan Sagiri bukan saja berada di Jatinegara Kaum, tapi menyebar di berbagai tempat.

Menurut tokoh masyarakat Jatinegara Kaum, RH Kamzul Arifin dan R Subarna, ‘kauman’ juga terdapat di beberapa tempat lainnya yang ditinggali keturunan Pangeran Jayakarta. Seperti Cibarusah, Citereup, Purwakarta, Bekasi dan Karawang.

Para ningrat keturunan Jatinegara Kaum biasanya bertemu setahun dua kali. Pada peringatan maulid Nabi Muhammad shalalahu alahi wassalam biasanya digelar di Masjid As-Salafiah. Juga nisfu shahban menjelang bulan puasa.

Pangeran Ahmad Jaketra ketika hijrah hidup sebagai rakyat biasa. Tidak mau membangun istana untuk merahasiakan identitasnya. Maklum sebagai orang yang ditakuti Belanda, ia selalu dikejar-kejar musuh bebuyutannya ini.

Pangeran melarang keturunannya untuk berbahasa Melayu dalam pergaulan antar mereka. Tapi, seperti dikatakan RH Suhandita, sesepuh masyarakat Jatinegara Kaum, dewasa ini pemuda umumnya sudah tidak bisa berbahasa Sunda. Sunda hanya digunakan para orang tua.

Untuk menjaga identitas dirinya, Pangeran juga melarang keturunannya memberitahukan letak makamnya. Tidak heran kalau makamnya baru diketahui 1956, masa gubernur DKI Sumarno. Boleh diacungkan jempol kepatuhan keturunannya ini memenuhi wasiat itu. Karena makam leluhurnya baru diketahui umum setelah 337 tahun dirahasiakan.

Sekalipun sejak lama jalan raya Jakarta-Bekasi dibangun, menghubungkan Jakarta- Karawang, tapi Jatinegara Kaum sendiri masih terpencil. Sampai 1960-an tanah yang membatasi daerah Jatinegara Kaum dengan tetangganya Rawamangun masih berupa sawah. Konon, untuk menghindari masuknya para pendatang, sebagian penduduk sengaja membuang kotoran di jalan itu. Tapi, menurut RH Suhandi, kalau beberapa dekade lalu hampir seluruh penduduk daerahnya merupakan satu kerabat, kini sudah separuh-separuh, alias sebagian sudah hengkang dari tempat kelahirannya.

Sekalipun selama ratusan tahun jadi kampung tertutup, tapi menurut R Subarna, pendidikan warga di sini rata-rata SMA plus. Menyebabkan ekonomi mereka lebih baik dari warga Betawi umumnya. Ini karena, mereka lebih dulu masuk ke sekolah-sekolah umum (Belanda). Ketika warga Betawi umumnya masih mengharamkannya. Karenanya, kata Subarna, banyak di antara warga yang menjadi bupati, wedana, camat dan lurah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA