Monday, 18 Rajab 1440 / 25 March 2019

Monday, 18 Rajab 1440 / 25 March 2019

Di Gedung Ini NU-Muhammadiyah Sepakat Bersatu Lawan Belanda

Ahad 18 Nov 2018 10:03 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Gedung yang menjadi kantor Pusat MIAI

Gedung yang menjadi kantor Pusat MIAI

Foto: 30 tahun Indonesia Merdeka
Di Gedung Bataviasche Kunstkring, Muhammadiyah-NU membentuk federasi Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Bangunan Bataviasche Kunstkring sudah berusia lebih satu abad. Gedung yang dibangun pada 1913 itu terletak di Jl Teuku Umar No 1, Jakarta Pusat. Ketika peresmian, Perkumpulan Kesenian Batavia dan pergelaran opera dari Eropa turut meramaikan.

Bekas gedung kesenian yang hingga kini masih berdiri dengan tegak, ini memiliki

ciri khas selama pendudukan Jepang (1942-1945) adalah lengkungan pintu, jendela, balkon, arkadia, dan menara. Gedung ini berdiri di atas tanah seluas 0,3 hektare dengan bangunan 731 meter persegi. Merupakan bangunan pertama yang menerapkan teknologi beton bertulang.

Gedung bersejarah ini pernah telantaran kemudian diselamatkan ketika diambil alih Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI. Ia juga merupakan awal pembangunan kawasan Menteng.

Gedung ini pada masa Bung Karno pernah digunakan untuk kantor Ditjen Imigrasi. Sebelumnya, beberapa saat setelah kemerdekaan, gedung ini menjadi kantor Madjlis Islam Alaa Indonesia (MIAI). MIAI adalah badan federasi perhimpunan Islam yang didirikan pada 21 September 1937 di Surabaya. Federasi ini didirikan atas prakarsa tokoh-tokoh Islam yang bersifat tradisional, yakni KH Wahab Chasbullah (NU), KH Mas Mansyur dan KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah).

Beberapa organisasi Islam lokal juga hadir dalam pembentukannya. Tujuannya di dalam negeri adalah mengeratkan hubungan antarumat Islam, sedangkan kiprahnya di luar negeri pun untuk mengeratkan hubungan umat Islam Indonesia dengan negara luar. Inisiatif ke arah persatuan Islam mengingat kala itu (pada 1930-an) diperlukan kerja sama yang erat untuk melawan penjajah Belanda.

MIAI bertekad dengan adanya friksi-friksi di bidang politik dan perbedaan paham dalam soal khilafiah di kalangan umat Islam perlu dibenahi di atas dasar ukhuwah Islamiyah. Organisasi-organisasi berasaskan Islam menyambut baik pembentukan MIAI. Dalam perjuangannya, MIAI bersikap nonkooperatif terhadap penjajah, baik Belanda maupun Jepang.

Karena itu, Jepang segera membubarkan MIAI karena dianggap membahayakan pendudukannya di Indonesia. MIAI kemudian membentuk Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia).

Seperti MIAI, para pendukung utama Masyumi berasal dari Muhammadiyah dan NU. Ketika Pemilu 1955 terbentuk, Partai NU terpisah dari Masyumi. Masyumi sendiri kemudian dibubarkan Presiden Soekarno pada awal 1960-an.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA