Sunday, 17 Rajab 1440 / 24 March 2019

Sunday, 17 Rajab 1440 / 24 March 2019

Jakarta Ternyata Pernah Punya Keraton

Selasa 23 Oct 2018 09:34 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Gedung peninggalan Belanda Galangan VOC, Jakarta Utara, Minggu (5/4). (Republika/Prayogi)

Gedung peninggalan Belanda Galangan VOC, Jakarta Utara, Minggu (5/4). (Republika/Prayogi)

Keraton Jayakarta lenyap saat VOC menghancurkan Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Keraton Jayakarta pernah berdiri di Jakarta. Luas keraton terbentang di antara dua anak sungai (pecahan Ciliwung) di sebelah utara dan selatan, sebuah anak sungai di sebelah timur. Ketika itu, Jayakarta dikepung pagar bambu dan kemudian sebagian dibuat dari tembok berhubung adanya ancaman dari Inggris dan Belanda.

Tata kota Jayakarta (kira-kira di sekitar Jembatan Intan sekarang), terdiri dari keraton, atau tempat kediaman pangeran. Sekitar keraton terdapat alun-alun. Di sisi kiri dan kanannya terdapat perumahan orang-orang terkemuka. Semuanya terbuat dari bambu dan rumbia. Pembangunan kota Jayakarta kala itu, sesuai dengan kota-kota pelabuhan di Jawa.

Di sebelah timur (kira-kira sekitar Ancol), terdapat tempat perburuan para bangsawan. Hutan di sekitarnya masih dihuni binatang buas, seperti banteng, badak, macan, dan babi hutan.

Namun di balik kisah kejayaan Keraton Jayakarta, ada cerita pilu saat VOC membumihanguskan keraton tanpa ampun. Wali Kota Jakarta Raya Sudiro — sekitar 1955 — mengumpulkan sejumlah ahli sejarah di Balaikota. Di antara mereka terdapat Mr Mohammad Yamin, wartawan senior Sudarjo Tjokrosisworo, dan Mr Dr Sukanto.

Mereka dikumpulkan untuk meneliti bila kota Jakarta didirikan. Yang dimaksud bukanlah Batavianya Jan Pieterzoon Coen, tetapi Jakarta yang didirikan Fatahillah di atas puing-puing benteng Portugis.

Tahunnya, menurut sejarah sudah pasti 1527. Tetapi bulan dan tanggal berapa Fatahillah menaklukkan Portugis di Teluk Jakarta.

”Saya sangat ingin kelak memperingati dan insya Allah merayakan hari lahir Jakarta setiap tahun. Para warga akan saya anjurkan memperingatinya,” tulis Sudiro dalam sebuah buku mengenai kesan-kesannya sebagai wali kota.

Dari tiga orang tokoh itu ternyata hanya Mr Dr Sukanto yang berhasil meneliti. Hasil penyelidikan sejarawan yang ketua Arsip Nasional selama berbulan-bulan menyimpulkan 22 Juni 1527 sebagai hari paling dekat kesuksesan Fatahillah mengalahkan Portugis di Teluk Jakarta.

Pada 22 Juni 1956, Sudiro mengajukan ke sidang pleno DPRD DKI, dan diterima. Kemudian ditetapkan setiap 22 Juni diadakan sidang istimewa DPRD, dan berlangsung hingga kini. Memang, tidak sampai satu abad Jayakarta yang dibangun Fatahillah ditaklukkan Belanda (1619), dan berganti nama menjadi Batavia.

Ada cerita menarik dibuat seorang Jerman bernama Albrecht Schmedlopp, saksi mata yang menyaksikan penaklukan Kota Jayakarta. Ketika itu, Schmedlopp seorang apoteker yang masuk ke dalam dinas VOC. Ia menceritakan pengalamannya itu dalam sebuah buku berjudul Apa yang terjadi di Jacatra.

Schmedlopp yang disebutkan sebagai penulis netral, menceritakan bagaimana JP Coen tanpa mengenal ampun menghancurkan Jayakarta. ”Padahal,” ujarnya, ”orang Jawa (sebutan untuk para pengikut Pangeran Jayakarta – Red), menginginkan perdamaian. Jenderal (JP Coen-Red), tidak menghiraukannya.”

Selanjutnya ia menulis: ”Pada 14 Mei 1619 pagi hari dari benteng kita (VOC) mengirimkan berbagai pasukan bersenjata ke kota dan istana, kemudian membunyikan alarm, membuka gerbang benteng dan menyeberangi sungai dengan kapal kecil, memasang tangga, menaiki, dan menduduki kota.”

"Menurut saksi mata dari Jerman itu, pendudukan demikian cepat dan tanpa banyak perlawanan sehingga orang-orang Jawa kehilangan kotanya sebelum mereka menyadari, bahwa kita akan mendudukinya. Mereka hampir tidak memberi perlawanan. Mereka melarikan diri ke hutan terdekat.”

Setelah itu, tulis Albrech Schmidlopp, ”Pertama kami (VOC) menjarah kota, kemudian membakarnya tanpa sisa. Kebakaran diiringi bunyi dan letupan-letupan yang sangat keras, berlangsung selama tiga hari.”

Beberapa hari kemudian, orang mulai membangun sebuah kota dan kastil di seberang sungai, dan karena menjadi berita yang sampai pada daerah sekitarnya, banyak orang asing dari berbagai negara berkunjung dan menetap di sini (Batavia). Karena semakin hari semakin banyak yang berdatangan, dalam waktu satu tahun Batavia diperluas dua kali. Warga Jerman kelahiran Stuttgart itu juga menceritakan tentang kedatangan orang-orang Cina dari Bantam (Banten).

Hingga jumlah orang Cina kala itu mencapai 4.000 jiwa. Di samping orang Cina, berdasarkan laporan itu, terdapat sekitar seribu orang Jerman dan Belanda, dan 2.000 orang berkulit hitam (umumnya para budak yang didatangkan dari India, Myanmar, dan Srilangka).

Yang dimaksudkan istana dalam tulisan warga Jerman yang masuk VOC ini adalah Keraton Jayakarta. Perlu diketahui, kehadiran warga Jerman di Hindia Belanda terjadi sejak awal VOC. Kala itu di Nusantara, komunitas Jerman merupakan koloni terbesar kedua setelah Belanda dengan jumlah sekitar 8.000 jiwa.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA