Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

'Infinity War' Jakarta Melawan Sampah

Senin 22 Oct 2018 14:28 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Petugas PPSU membersihkan sampah di Kali Besar, kompleks Kota Tua, Jakarta, Kamis (30/8).

Petugas PPSU membersihkan sampah di Kali Besar, kompleks Kota Tua, Jakarta, Kamis (30/8).

Foto: Antara/Aprillio Akbar
Masalah sampah sudah coba diatasi sejak zaman gubernur Ali Sadikin.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Permasalahan sampah di Jakarta seolah tidak pernah menemui kata selesai. Terbaru, polemik sampah kembali terjadi setelah Pemerintah Kota Bekasi mengeluhkan mandeknya dana kemitraan yang diberikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai kompensasi sampah DKI dibuang ke TPA Bantar Gebang. Namun, masalah ini bukan pertama kali, DKI seolah berperang melawan sampah yang tidak pernah berkesudahan meski sudah berganti gubernur.

Zaman Ali Sadikin contohnya. Ali Sadikin dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 28 April 1966 oleh Presiden Soekarno di Istana Negara. Tawaran menjadi gubernur datang dari Presiden Soekarno yang meminta dia datang ke Istana.

Bang Ali, sebutan akrab yang diberikan warga Jakarta, menjabat sebagai gubernur DKI dua periode sampai Pebruari 1977. Sebelum menjabat kedua kali, ada periode peralihan di mana dia berfungsi sebagai pejabat gubernur (17 Mei 1971 sampai 4 Pebruari 1972). Banyak perubahan yang dilakukan selama 11 tahun jadi gubernur.

Presiden Soekarno yang menginginkan Jakarta sebagai kota yang bersih dan diperhitungkan di dunia internasional ketika melantik Bang Ali menyatakan ketidaksukaannya melihat sampah, melihat selokan yang buntu, melihat kejorokan. Bang Ali yang merasa secita-cita dengan Bung Karno langsung mengumumkan ‘perang terhadap sampah’.

”Saya sadari sepenuhnya, bahwa perbaikan sarana kota yang selama ini dilakukan dalam rangka penciptaan lingkungan hidup perkotaan yang lebih baik, perlu didukung dengan program kebersihan kota dan lingkungan,” ucap Ali Sadikin.

Dia merasa sangat jengkel sekali jika orang membuang sampah dan kulit buah-buahan ke jalan besar. Seperti dari jendela sedan yang mengkilap dan dari bus kumuh. ”Orang demikian,” menurut Bang Ali, ”biadab sekalipun naik sedan yang mentereng.”

Tidak heran kalau Bang Ali pernah menegur dan memarahi ketika orang dari sebuah mobil membuang sampah ke jalan raya. Sampai sekarang pun kita masih sering melihat orang membuang sampah seperti botol-botol air mineral dari sedan ke jalan raya.

Gubernur yang kadang berbicara ceplas ceplos ini bila melihat orang melakukan pelanggaran, telah banyak mengubah wajah Jakarta. Dia bertekad menjadikannya sebagai kota metropolitan yang sebelumnya dijuluki the big village (kampung besar). Dialah yang membangun gedung Balai Kota bekas peninggalan Belanda, menjadi gedung megah bertingkat 23 yang diresmikan Presiden Soeharto pada 28 April 1976.

Di awal-awal jabatannya, dia membangun shelter atau halte untuk rakyat menunggu bus atau angkutan umum yang lewat. Sebelumnya rakyat harus rela kepanasan atau kehujanan bila menunggu bus.

Di masa Bang Ali di Ibu Kota mulai banyak bermunculan klub malam, panti pijat dan amusement centre. Di samping tempat hiburan seperti pacuan anjing, pacuan kuda, Hai Lai untuk lapisan yang lebih berada.

photo
Ali Sadikin

 

”Tapi saya tidak meninggalkan masyarakat yang lemah ekonominya," ucap Ali Sadikin.

Bang Ali mengadakan pesta perayaan penggantian tahun semalam suntuk. Acara yang sama ia selenggarakan pada tiap hari ulang tahun Jakarta.

Untuk ini, selama sebulan penuh tiap tahun diselenggarakan Jakarta Fair (Pekan Raya Jakarta), seperti Pasar Gambir di masa kolonial untuk memperingati Ratu Wilhelmina, nenek Ratu Beatrix. Bang Ali juga mengembangkan dan membangun adanya tempat-tempat rekreasi di Ibu Kota dalam segala bentuk dan jenis.

Ia juga banyak membangun sekolah dari tingkat SD, SLTP dan SLA meskipun dia mengakui sebagian diperolehnya dari uang judi karena anggaran Pemda tidak memadai. Dia beralasan, membuka perjudian karena banyak sekali terdapat perjudian, terutama di kalangan masyarakat Tionghoa yang seolah-olah bagian dari kebudayaan mereka. Dia mencela keras ketika kebiasaan orang Cina ini juga diikuti oleh masyarakat Indonesia, padahal menurut agama judi itu haram.

Ketika terjadi Pemilu 1971, Bang Ali menolak berkampanye untuk Golkar. Meskipun ada yang menyesalkan tekadnya untuk bertindak netral dan berdiri di atas semua golongan. Dalam Pemilu 1971, PPP unggul dibanding Golkar.

 

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA