Senin, 10 Rabiul Akhir 1440 / 17 Desember 2018

Senin, 10 Rabiul Akhir 1440 / 17 Desember 2018

Alih Rupa Kemang, Tempat Jin Buang Oplet Jadi Kawasan Elite

Jumat 06 Apr 2018 16:48 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Suasana Kemang di waktu malam.

Suasana Kemang di waktu malam.

Foto: Dok. Republika
Pada 1970-an Kemang masih menjadi kawasan peternakan dan perkebunan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Kemang saat ini merupakan satu dari sekian kawasan elite di Ibu Kota. Padahal, pada 1960-an Kemang tidak tercantum dalam peta Jakarta. Kemang saat itu tak lebih sebuah desa di Kelurahan Bangka. Tidak heran ketika 1960-an wartawan Antara M Nahar pindah ke Kemang, ia diolok kawan-kawannya.

"Ngapain lu tinggal di tempat jin buang oplet," begitu bunyi salah satu olok-olok itu.

Menurut Nahar, semua itu benar belaka. Sampai 1970-an, katanya, Kemang masih sangat sepi. Pendatang yang tinggal bisa dihitung dengan jari. Hampir seluruh penduduknya warga Betawi, yang bercocok tanam, dan beternak sapi. Mereka tinggal di rumah-rumah papan, beratap rumbia. Hanya dalam 10 tahun, situasi Kemang berubah drastis.

Willard A Hanna, mantan direktur USIS (Kantor Penerangan AS) di Indonesia dalam Hikayat Jakarta menulis; "Akhir-akhir ini Kebayoran dikalahkan oleh pembangunan kota-kota satelit baru yang lebih mewah, seperti Kemang dan Pertamina Village di Kuningan."

Menurut Hanna, Kemang setaraf dengan Forbes Park, kota satelit paling megah di Manila. Apa yang dikemukakan warga AS dua dekade lalu itu memang benar. Tapi Kemang saat ini telah mengalami banyak perubahan. Namun, meski belasan kota satelit baru bermunculan di pinggir Jakarta, Kemang masih tetap bergengsi.

Di sini, para eksekutif perusahaan asing, konglomerat, dan para cukong, badan-badan PBB, dan anggota misi diplomatik, bermukim. Kalau 1960-an, seperti dituturkan Nahar, kita masih mendapati persawahan dan peternakan sapi, kini jangan harap menemukan semua itu di Kemang. Termasuk penduduk aslinya yang warga Betawi. Tidak keliru jika seorang staf Kelurahan Bangka mengatakan orang Betawi di Kemang tak ubahnya benda di museum barang langka.

”Bapak harus masuk ke pelosok-pelosok gang untuk menemui mereka,” ujar Rachim, anggota staf kelurahan itu.

Sejumlah orang tua yang masih bertahan di Kemang, dengan nada sedih mengatakan; "Anak-anak dan cucu-cucu saya sudah tidak ada lagi yang tinggal di sini."

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA