Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Imlek dan Sejarah di Baliknya

Selasa 05 Feb 2019 10:11 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Karta Raharja Ucu

Warga merayakan Tahun Baru Imlek di Vihara Dharma Bakti, Petak Sembilan, Jakarta, Sabtu (28/1) dinihari.

Perayaan Imlek di Teratai Chinese Restaurant yang berlokasi di Hotel Borobudur Jakarta.

Foto: dok. Istimewa
Di Cina sendiri, Imlek dikenal dengan nama pesta musim semi

Sementara ribuan tahun lalu kerajaan-kerajaan Nusantara telah berhubungan dengan orang-orang Cina dengan melakulan perdagan. Seiring berjalannya waktu asimilasi kebudayaan pun terjadi. Misalnya dalam kesenian reog yang kerap dimainkan berbarengan dengan barongsai. Begitu pun perayaan imlek yang dipadukan dengan budaya lokal setempat. Seperti perayaan Imlek di Solo yang dimeriahkan dengan tradisi grebek Sudiro.

Meski demikian, perayaan Imlek di Indonesia sempat di larang. Pemerintahan Orde Baru saat itu menolak Imlek termasuk segala hal yang berbau Cina semisal pertunjukan barongsai. Penolakan pemerintah terhadap hal-hal yang berbau Cina ditegaskan dengan keluarnya intruksi presiden nomor 14 tahun 1967.

“Akibatnya sering mereka harus melakukan kegiatan di tempat pemeluk agama Budha. Diskriminasi terhadap masyarakat luar jawa juga terjadi, perlakuan ini menjadi bom waktu yang terbukti meledak setelah Soeharto lengser,” tulis Guruh Dwi Riyanto dan Pebriansyah Ariefana dalam Rapor Capres.

Setelah Orde Baru runtuh, warga Cina di Indonesia mulai perlahan dapat terbuka menunjukan budaya tradisinya. Terlebih Presiden Abdurahman Wahid atau dikenal sebagai Gus Dur mencabut Inpres tersebut dan menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden nomor 19 tahun 2001 tanggal 9 April 2001. Isinya meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif.

Di era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarono Putri pada 2003, Imlek secara resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional. “Dia (Gus Dur) dan anggota kabinetnya menghadiri perayaan tahun baru Imlek Februari 2000 di Jakarta, perayaan yang di organsasi oleh Matakin,” tulis Wibowo dan Thung Ju Lans dalam Setelah Air Mata Keing.

Kini Imlek sama meriahnya dengan perayaan hari besar di Indonesia. Setiap pusat perbelanjaan modern menghias diri dengan pernak-pernik Imlek. Bahkan media masa pun berlomba-lomba membuat acara yang bernuansa Imlek. Menyadur ungkapan Lan Fang dalam buku Imlek Tanpa Gus Dur, mengucapkan Gong Xi Fa Chai sama meriahnya dengan saat mengucapkan minal aidzin wal foto atau Merry Christmas.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA