Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Tuesday, 10 Zulhijjah 1439 / 21 August 2018

Sosok Orang Betawi pada Jalanan Lebaran Jakarta yang Lengang

Rabu 13 June 2018 05:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Ratusan kendaraan antre menuju Jakarta Fair Kemayoran 2017 di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (29/6).

Lalu lintas Jakarta yang sepi jelang lebaran turut memengaruhi pendapatan para sopir bis.

Foto:
Sosok orang Betawi kebanyakan hanya muncul pada nama gang atau jalanan kampung.

                                                       *****

Galibnya hari Lebaran, daerah pinggirian yang kini menjadi konsentrasi orang Betawi menjadi hiruk pikuk. Ini berbeda dengan saat hari lebaran di jalanan pusat kota seperti di Kawasan Jalan Sudirman, Jl MH Thamrin, kawasan elit Menteng, Pondok Indah yang nyaris tak ada orang alias kesepian. Selepas shalat Ied Fitri jalanan macet total. Semua orang tumpah ke jalan untuk mengunjungi para famili bersilaturahim atau maaf-maafan.

Menjelang lebaran seperti hari, pasar tradisionil, penuh orang berjualan ayaman janur kuning untuk ketupat. Untuk pasar di Kebayoran lama, malah aneka pajangan janur kuning sudah terlihat mulai dijual semenjak Senin malam. Menjelang hari-hari lebaran ayaman ketupat sudah banyak dijual di pinggiran jalan.

Berbeda dengan hari biasa yang selalu macet, jalanan di Jakarta jalanan malah longgar. Warung Tegal dan warung Padang banyak tutup ditinggal pemiliknya pulang kampung. Anak kost di Jakarta pada hari lebaran harus ngirit masak sendiri karena warung malan banyak tak membuka dagangannya. Tokh, bila ada gerai warung hingga restoran yang buka pada hari lebaran, mereka biasanya buka selepas tengah hari.

Sesuai lebaran, tempat yang penuh sesak tinggal Ancol, Taman Mini, dan Kebun Binatang Ragunan.Masyarakat tumpah ruah di sana. Apalagi biasanya tempat itu menggratiskan atau memotong harga karcis. Mereka mandi air laut di pantai Ancol, naik kereta gantung di Taman Mini, atau 'mencocokan muka' dan mencari 'saudara' di Kebun Binatang Ragunan.

Namun, di balik keriuhan suasana lebaran di Betawi, bila dipikir secara jernih lagi, maka ada yang membuat bulu kuduk meremang layaknya dikejar hantu. Hal ini ketika tahu nasib para tokoh dan orang Betawi yang masih minim menjadi nama jalan raya yang besar. Yang paling akhir nama tokoh Betawi yang ditabalkan menjadi nama jalan besar adalah Benyamin Sueb. Belakangan malah 'kagak ada'. Nama Jalan Warung Buncit misalnya, malah sempat akan digantikan nama 'orang luar Betawi'. Padahal nama 'Bang Buncit' adalah legendaris di kawasan Mampang karena mengacu pada sebuah pemilik warung yang dahulu laris di kawasan itu.

Alhasi, ketika menjumpai nama jalan di Jakarta dengan sebutan identik nama seorang 'haji', maka bulu kuduk bisa langsung merinding. Di sepanjang ruas jalan itu yang ada kini hanya tinggal anak-cucu dari sang empunya nama dengan kondisi rumah berhimpit-himpitan. Lahan engkongnya yang luas kini tinggal kenangan. Banyak diantara mereka hanya menjadi penonton kemajuan kota Jakarta. Seperti lahan tanah yang dulu dimiliknya, nasib mereka pun ikut tergusur akibat pembangunan. Mereka banyak yang hanya menjadi tukang antar jemput anak sekolah di kompleks perumahan atau jadi tukang ojek di ujung jalan yang dahulu merupakan lahan milik leluhurnya.

''Padahal zaman dulu ketika engkong ane mau naik haji, mereka 'ngukur' tanah yang akan dijual sampai pegel  jalannya. Nah, kalau kini mau naik haji ngukur tanahnya sepele saja.Lagi pula tanah yang dijual pun cukup secuil. Hanya dengan lahan 100 meter persegi, ane bisa bayarin naik haji empat orang sekaligus. Namun, celakanya ketika tiba waktunya zaman tanah harganya selangit kayak sekarang ini, ane sudah kagak gableg  tanah secuil pun. Bahkan, barang tanah sepengki saja nggak ade lagi,'' kata Ahmad mengeluhkan kesialan nasibnya.

Itulah kesialan nasib sosok orang Betawi. Mereka kebanyakan terus tersisih dari derap pembangunan kampunya sendiri. Sosok Haji Mencong, Haji Chaplin, Haji Murtadho, Haji Mansur, Haji Kadar, Haji Cokong, Haji Muslim, Haji Beden, Haji Ipin, Haji Soleh, Haji Kamang, Haji Muntasir, Haji Sa'ba, dan berbagai nama sejenis lainnya tinggal merupakan sisa kenangan zaman normal. Entah sampai kapan?

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA