Ahad 19 Nov 2023 13:33 WIB

IMF: Pertemuan Biden-Xi Jinping Sinyal Penting Bagi Kerja Sama Global

Mencairnya hubungan AS-Cina memberikan efek positif bagi para pemimpin di KTT APEC.

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha
Managing Director of IMF, Kristalina Georgieva.
Foto: Republika/ Intan Pratiwi
Managing Director of IMF, Kristalina Georgieva.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, mengatakan pertemuan antara Presiden AS Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping merupakan sinyal yang sangat dibutuhkan dunia perlu lebih banyak bekerja sama.

"Ini mengirimkan sinyal ke seluruh dunia kita harus mencari cara untuk bekerja sama dalam menghadapi tantangan-tantangan di mana tidak ada satu negara pun yang bisa berhasil," kata Georgieva di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik, Jumat (17/11/2023).

Baca Juga

"(Pertemuan Biden-Xi) penting pada saat fragmentasi geo-ekonomi semakin dalam dengan konsekuensi negatif terhadap prospek percepatan pertumbuhan," kata Georgieva.

Pada Rabu (15/11/2023) Biden dan Xi sepakat untuk membuka saluran telepon kepresidenan, melanjutkan komunikasi militer-ke-militer dan bekerja untuk mengekang produksi fentanil. Hal ini menunjukkan kemajuan nyata dalam pembicaraan tatap muka pertama mereka dalam setahun.

Pertemuan tersebut tidak mengubah serangkaian pembatasan perdagangan dan investasi yang didorong isu keamanan nasional antara dua perekonomian terbesar di dunia. Namun Georgieva mengatakan  dimulainya kembali komunikasi tersebut penting pada saat perekonomian global sangat tidak pasti.

Georgieva mengatakan mencairnya hubungan AS-China memberikan efek positif bagi para pemimpin di KTT APEC. Ia menyimpulkan "semangat kerja sama terbukti lebih kuat. Dan dunia memang membutuhkannya."

Georgieva mengatakan komunikasi AS-China yang dihidupkan kembali juga akan membantu mendorong kerja sama dalam menghadapi tantangan global, terutama perubahan iklim, dengan konferensi iklim COP28 yang akan dimulai pada akhir November.

Keterlibatan AS-China juga akan menjadi faktor penting dalam negosiasi mengenai reformasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), termasuk pemulihan sistem penyelesaian sengketa. Para menteri WTO akan bertemu pada bulan Februari di Uni Emirat Arab. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement