Jumat 16 Jun 2023 20:00 WIB

Survei IPO: Elektabilitas PDIP Turun Signifikan Meski Masih Tertinggi

Elektabilitas Gerindra yang sebelumnya 12-13 persen menjadi 19,7 persen.

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Agus raharjo
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (tengah), dan sejumlah kader berfoto usai penutupan Rakernas III PDI Perjuangan di Sekolah Partai DPP PDIP, Jakarta, Kamis (8/6/2023).
Foto: Republika/Prayogi
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (tengah), dan sejumlah kader berfoto usai penutupan Rakernas III PDI Perjuangan di Sekolah Partai DPP PDIP, Jakarta, Kamis (8/6/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) masih menjadi posisi paling teratas elektabilitas partai politik yang dipilih masyarakat berdasarkan survei Indonesia Political Opinion (IPO). Elektabilitas PDIP sebesar 21,5 persen.

Namun demikian, Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan, meski teratas, elektabilitas PDIP ini mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan survei IPO sebelumnya mencapai 26 persen.

Baca Juga

"Karena tertinggi IPO pernah mencatatkan sebelumnya elektabilitas PDIP di angka 26 prsen, lalu hari ini 21,5 persen artinya perubahan signifikan," ujar Dedi saat Rilis survei "Peta Elektoral Koalisi Partai & Capres-Cawapres Jelang Pemilu 2024" di Hotel Tamarin Jakarta, Jakarta, Jumat (16/6/2023).

Sebaliknya, Partai Gerindra, kata Dedi, meski konsisten bertengger di posisi kedua, tetapi elektabilitasnya justru naik. Gerindra yang selama ini hanya mendapat 12-13 persen berdasarkan survei IPO, terbaru mendapat perolehan 19,7 persen.

Hal ini kata Dedi, besar kemungkinan karena Gerindra yang paling mencolok dalam aktivitas-aktivitas belakangan ini. Ditambah hubungan Gerindra dengan Jokowi dan koalisi yang dibangun lebih meyakinkan dibandingkan yang lainnya.

Selain itu, Prabowo juga dianggap satu-satunya kandidat bakal calon presiden yang dia sendiri memimpin partainya. "Artinya dengan tingkat independensi yang tinggi tadi, besar kemungkinan suara itu tergeser ke suara partai sehingga Gerindra menempati posisi kedua tapi dengan elektablitas lebih tinggi," ujar Dedi.

Sementara di posisi ketiga, ada Golkar dengan 9,3 persen, Demokrat 9,2 persen, PKB 7,7 persen, Nasdem 7,5 persen, PAN lima persen, PKS 4,8 persen, Perindo 4,5 persen dan PPP 2,1 persen. Sementara PSI hanya memperoleh 0,6 persen, Gelora 0,6 persen, Hanura 0,4 persen, PBB 0,4 persen, Partai Umat 0,1 persen.

"Berarti ada partai parlemen sekarang yang terancam tidak lolos yaitu PPP dengan elektabilitas 2,1 persen. Yang menarik PAN juga, karena PKS termasuk stabil dan sulit diprediksi lembaga survei, karena survei dan kenyataan berubah, beda ama partai lain," ujar Dedi.

Survei Indonesia Political Opinion (IPO) dilakukan pada rentang periode 5-13 Juni 2023 dengan metode wawancara ke 1.200 responden. Margin of error survei diperkirakan 2,9 persen pada tingkat akurasi data 95 persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement