Sabtu 18 Feb 2023 10:54 WIB

Produk Menstruasi untuk Korban Gempa Turki-Suriah Kerap Luput dari Paket Bantuan

Kurangnya akses produk menstruasi berdampak pada kesehatan fisik dan mental wanita.

Rep: Mabruroh/ Red: Ani Nursalikah
Seorang wanita muda memindahkan puing-puing dari bangunan yang hancur saat dia mencari korban gempa dengan tim penyelamat di Gaziantep, Turki, Senin (6/2/2023). Gempa kuat telah merobohkan beberapa bangunan di tenggara Turki dan Suriah dan dikhawatirkan banyak korban jiwa. Produk Menstruasi untuk Korban Gempa Turki-Suriah Kerap Luput dari Paket Bantuan
Foto: AP Photo/Mustafa Karali
Seorang wanita muda memindahkan puing-puing dari bangunan yang hancur saat dia mencari korban gempa dengan tim penyelamat di Gaziantep, Turki, Senin (6/2/2023). Gempa kuat telah merobohkan beberapa bangunan di tenggara Turki dan Suriah dan dikhawatirkan banyak korban jiwa. Produk Menstruasi untuk Korban Gempa Turki-Suriah Kerap Luput dari Paket Bantuan

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Bantuan makanan, minuman, obat-obatan, pakaian, selimut, dan tenda terus mengalir kepada korban-korban bencana alam, baik gempa bumi maupun banjir. Namun, bantuan itu seringkali abai terhadap kebutuhan wanita ketika menstruasi, termasuk ketika bencana gempa bumi Turki dan Suriah.

Korban mengalami krisis produk menstruasi. “Setelah gempa, negara dan organisasi dari seluruh dunia bergegas untuk mengirimkan paket bantuan dan pertolongan yang diisi dengan selimut, makanan, tenda, dan obat-obatan untuk membantu mereka yang terkena dampak. Produk menstruasi tidak selalu termasuk,” menurut organisasi Jeyetna dan We Need to Talk, dilansir dari Al Arabiya, Sabtu (18/2/2023).

Baca Juga

Menurut Co-Founder Jeyetna dan Koordinator Proyek Vanessa Zammar, buta gender terhadap keadaan darurat dan pembuatan kebijakan secara umum mengabaikan menstruasi karena masih dianggap sebagai sesuatu yang harus ditangani oleh perempuan pada tingkat individu secara pribadi.

“Dalam kasus bencana alam, periode kemiskinan memburuk karena prioritas buta gender terhadap kebutuhan lain yang dianggap lebih penting seperti tempat tinggal, makanan, dan air,” kata Zammar.

Co-Founder organisasi Turki We Need to Talk Bahar Aldanmaz mengatakan negara-negara seperti Turki dan Suriah masalah ini hampir tidak terdengar. Percakapan tentang menstruasi dianggap tabu jauh sebelum gempa terjadi.

“Stigma menstruasi di Turki sangat berat. Lebih buruk lagi dalam bencana alam, seperti gempa bumi, karena tidak ada akses ke produk, sistem sanitasi, air bersih, toilet, atau fasilitas lainnya,” katanya.

Selain itu, karena pekerja bantuan di lapangan yang mengawasi daftar donasi seringkali laki-laki sehingga perempuan dan anak perempuan ragu-ragu untuk mengungkapkan bahwa mereka membutuhkan produk menstruasi.

“Kami menemukan kebanyakan laki-laki yang membuat daftar kebutuhan untuk sumbangan. Mereka bertanya kepada orang-orang 'apa yang Anda butuhkan?' Tetapi para wanita merasa malu untuk mengatakan mereka membutuhkan pembalut, jadi mereka tidak memasukkannya ke dalam daftar dan ketika tidak disertakan, orang tidak mengirimkannya,” jelas dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement