Monday, 18 Rajab 1440 / 25 March 2019

Monday, 18 Rajab 1440 / 25 March 2019

Apa Alasan Dibalik Mundurnya Paus Benekditus XVI?

Ahad 10 Mar 2013 17:24 WIB

Red: M Irwan Ariefyanto

Paus Benediktus  XVI

Paus Benediktus XVI

Foto: AP/Alessandra Tarantino

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG -- Pengunduran diri Pope Benekditus XVI beberapa waktu lalu cukup menggemparkan Vatikan. Pengunduran diri ini juga banyak menimbulkan pertanyaan. Termasuk saya. Kenapa Pope Benekditus mengundurkan diri. Keingintahuan ini yang akhirnya membawa saya untuk sedikit menelusurinya.

Pope Benekditus XVI memiliki nama asli Joseph Ratzinger. Ratzinger lahir pada tanggal 16 April 1927. Ratzinger lahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara di Bavaria. Ratzinger kecil lahir dari keluarga yang anti nazi. Ayahnya adalah orang yang anti-nazi. Sebagai bentuk perlawanan terhadap rezim Nazi, Joseph Ratzinger bergabung ke dalam Gereja Katolik Roman. Ratzinger menganggap gereja ini sebagai sebagai “a citadel of truth and righteousness against the realm of atheism and deceit”. Yakni benteng perlindungan dari kebenaran dan keadilan melawan ateisme dan kebohongan. Di usia 14 tahun, Ratzinger menjadi pasukan muda Hitler. Pada tahun 1945, Ratzinger meninggalkan pasukan Jerman di akhir perang dan pernah tertangkap oleh pasukan Amerika selama beberapa bulan.

Di tahun yang sama Ratzinger kembali ke Seminari di Munich dan ditunjuk sebagai seorang pendeta pada tahun 1951. Pada tahun 1953, Ratzinger memperoleh gelar doktornya di University of Munich. Pada tahun 1959, Ratzinger menjadi seorang profesor di University of Bonn. Kemudian berpindah ke University of Muenster pada tahun 1963 (-1966) dan menjadi ketua teologi dogmatik  di University of  Tübingen.

Pandangan Ratzinger yang konservatif dan tradisional meningkat selama masa liberal dan dirinya yang tidak menyenangi pandangan Marxisme yang banyak dianut oleh mahasiswanya, membuatnya dialienasikan oleh mahasiswa dan akhirnya dia kembali ke Bavaria, ke University of Regensburg menjadi seorang dekan dan wakil presiden.

Pada 19 April 2005, Ratzinger diangkat menjadi paus setelah kematian Pope John Paul II dan merupakan Paus dengan umur yang paling tua ketika diangkat menjadi Paus (78 tahun). Sebagai seorang yang berpikiran konservatif secara teologikal, dia menempatkan dirinya sebagai seseorang yang tegas terhadap homoseksualitas, pendeta perempuan, dan alat kontrasepsi. Tidak hanya itu, dia mengemban nilai-nilai Kristen, mengangkat isu mengenai hak asasi manusia, perlindungan terhadap lingkungan, dan perlawanan terhadap  kemiskinan dan ketidakadilan.

Mundurnya Pope Benekditus XVI membawa berbagai spekulasi. Diantaranya Pope Benekditus XVI yang berpindah agama dan sakit. Jika saya menjadi Pope Benekditus XVI, kedua tersebut cukup membuat jantung saya berdenyut lebih cepat dan syaraf menjadi cukup kencang. Namun, Pope Benekditus XVI tetap bertahan menjadi Paus. Sampai akhirnya Pope Benekditus XVI memutuskan untuk melepaskan kursi kepemimpinannya. Dugaan Pope Benekditus XVI berpindah agama cukup mencengangkan. Benarkah demikian?

Beredarnya foto ketika Benekditus melakukan doa bersama Mustafa Cagrici di Instanbul menguatkan spekulasi bahwa perpindahan agama adalah alasan mengapa Benekditus mengundurkan diri. Namun pada kenyataannya, Benekditus adalah orang yang memang berinisiatif untuk mempererat hubungan Kristen tidak hanya dengan Islam namun juga dengan Yahudi. Selama masa kepausannya, Benediktus telah mengunjungi sinagog di tiga negara begitupun dengan masjid. Sehingga dengan demikian, foto ini tidak bisa menjadi bukti bahwa Benekditus berpindah agama. Karena dalam foto tersebut, Benekditus juga masih menggunakan atribut identitas Kristen. Foto tersebut diambil pada tahun 2006. Doa yang dilakukan oleh Benekditus ini bertujuan untuk menghentikan Islamophobia.

Dalam pidato terakhirnya ada beberapa yang hal yang bisa menjadi sorotan. Di dua paragaraf akhir pidato, Benekditus menyatakan, “And now, let us entrust the Holy Church to the care of Our Supreme Pastor, Our Lord Jesus Christ, and implore his holy Mother Mary, so that she may assist the Cardinal Fathers with her maternal solicitude, in electing a new Supreme Pontiff” dan “With regard to myself, I wish to also devotedly serve the Holy Church of God in the future through a life dedicated to prayer”.

Ungkapan Benekditus XVI ini menunjukkan betapa masih kentalnya nilai-nilai Kristen yang melekat pada Paus Benekditus. Bahkan pada kalimat terakhirnya Benekditus menyatakan bahwa dirinya masih berharap untuk terus setia melayani gereja di masa depan dengan hidup yang didedikasikan untuk berdoa.

Apakah Pope Benekditus sakit?

Dalam pidatonya, Pope Benektidus mengatakan bahwa alasan dia mengundurkan diri adalah kekuatannya yang telah menurun karena usianya yang sudah lanjut. Usianya yang sudah memasuki umur 85 tahun memang bukan tidak mungkin menjadi alasan mengapa kekuatannya menurun. Fisik dan memori Benekditus sudah banyak berkurang. Ditambah lagi kecepatan berjalan dan kemampuan mengambil keputusan juga akan menurun. Kesimpulan yang didapatkan dari kalimat juru bicara Vatikan, Pope tidak sakit melainkan keputusan itu dibuat karena menurunnya kekuatan Pope berkaitan dengan usianya yang lanjut.

Apapun yang menjadi alasan Pope Benekditus, pada akhirnya Pope Benekditus XVI akan tetap dikenal sebagai bagian penting sejarah dari gereja Vatikan.

Penulis: Dona Sherena Selvia -- Sastra Inggris, Universitas Padjadjaran, Bandung

Sumber : Unpad
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA