Wednesday, 10 Rajab 1444 / 01 February 2023

Putin: Harus Ada Kesepakatan untuk Akhiri Konflik Ukraina

Sabtu 10 Dec 2022 13:05 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Ani Nursalikah

 Presiden Rusia Vladimir Putin memimpin rapat Dewan Keamanan melalui konferensi video di Moskow, Rusia, Selasa, 6 Desember 2022. Putin: Harus Ada Kesepakatan untuk Akhiri Konflik Ukraina

Presiden Rusia Vladimir Putin memimpin rapat Dewan Keamanan melalui konferensi video di Moskow, Rusia, Selasa, 6 Desember 2022. Putin: Harus Ada Kesepakatan untuk Akhiri Konflik Ukraina

Foto: Mikhail Metzel, Sputnik, Kremlin Pool Photo v
Putin membuka diri terhadap negosiasi atau perundingan.

REPUBLIKA.CO.ID, BISHKEK -- Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, sebuah kesepakatan pada akhirnya perlu dibuat untuk mengakhiri konflik di Ukraina. Dia menekankan, Moskow membuka diri terhadap negosiasi atau perundingan.

“Kepercayaan, tentu saja, hampir nol. Tapi pada akhirnya, kesepakatan harus dicapai,” kata Putin saat mengomentari konflik di Ukraina dalam pidatonya di pertemuan The Eurasian Economic Council (EAEU) yang digelar di Bishkek, Kyrgyzstan, Jumat (9/12), dikutip laman kantor berita Rusia, TASS.

Baca Juga

Putin menekankan, Rusia siap jika memang harus terlibat dalam sebuah perundingan demi mencapai kesepakatan penyelesaian konflik. "Saya telah mengatakan berkali-kali bahwa kami siap untuk perjanjian ini, dan kami terbuka untuk hal itu," ujarnya. 

Pekan lalu, Kanselir Jerman Olaf Scholz telah mendesak Putin untuk segera mencari solusi diplomatik guna mengakhiri konflik di Ukraina. Desakan itu disampaikan ketika Scholz melakukan pembicaraan via telepon dengan Putin.

 

“Kanselir mendesak Presiden Rusia untuk datang secepat mungkin ke solusi diplomatik, termasuk penarikan pasukan Rusia (dari Ukraina),” kata juru bicara Olaf Scholz, Steffen Hebestreit, saat memberikan keterangan tentang percakapan telepon antara Scholz dan Putin, 2 Desember lalu.

Hebestreit mengungkapkan, Scholz dan Putin melakukan pembicaraan selama satu jam. Selain soal solusi diplomatik untuk mengakhiri konflik, pada kesempatan itu Scholz turut mengecam serangan Rusia yang menargetkan infrastruktur sipil Ukraina. Dia pun menegaskan tekad Jerman untuk terus mendukung Ukraina.

Isu ketahanan pangan global yang terdampak akibat konflik Rusia-Ukraina turut dibahas dalam pembicaraan Scholz dan Putin. Menurut Hebestreit, Putin dan Scholz setuju untuk tetap menjalin kontak.

Sejak konflik Rusia-Ukraina pecah pada Februari lalu, Scholz dan Putin sudah secara teratur melakukan percakapan via telepon. Kontak semacam itu terakhir kali berlangsung pada September lalu. Dalam 90 menit perbincangan, Scholz mendesak Putin untuk segera memulai proses diplomatik guna mengakhiri konflik di Ukraina.

Bulan lalu juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan negosiasi antara Rusia dan Ukraina hanya bisa dimulai jika Kiev menunjukkan kemauan politik untuk membahas tuntutan Moskow. Peskov menyebut, sejauh ini Ukraina belum memperlihatkan hal tersebut.

“Harus ada kemauan politik dan kesiapan untuk membahas tuntutan Rusia yang sudah diketahui,” kata Peskov saat menjawab pertanyaan tentang apakah langkah yang harus diambil otoritas Ukraina guna memulai proses negosiasi selain mengatasi larangan legislatif tentang mengadakan pembicaraan dengan Moskow, 29 November lalu, dilaporkan TASS.

Peskov mengungkapkan, saat ini negosiasi atau pembicaraan tidak mungkin dilakukan karena hal tersebut sepenuhnya ditolak oleh Ukraina. “Operasi militer khusus (Rusia di Ukraina) terus berlanjut,” ucapnya.

Salah satu tuntutan utama Rusia terhadap Ukraina adalah agar negara tersebut tak bergabung dengan Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Namun, pada 30 September lalu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara resmi mengajukan permohonan aksesi jalur cepat aliansi pertahanan tersebut. Hal itu dilakukan setelah Rusia secara resmi menganeksasi empat wilayah Ukraina, yakni Luhansk, Donetsk, Kherson, dan Zaporizhzhia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA