Friday, 12 Rajab 1444 / 03 February 2023

India dan Rusia tidak Gelar KTT Tahunan

Jumat 09 Dec 2022 21:48 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

 Presiden Rusia Vladimir Putin, kanan, mendengarkan Perdana Menteri India Narendra Modi selama pembicaraan mereka di sela-sela KTT Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) di Samarkand, Uzbekistan, Jumat, 16 September 2022.

Presiden Rusia Vladimir Putin, kanan, mendengarkan Perdana Menteri India Narendra Modi selama pembicaraan mereka di sela-sela KTT Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) di Samarkand, Uzbekistan, Jumat, 16 September 2022.

Foto: ap/Sergei Bobylev/Pool Sputnik Kremlin
Pertemuan tingkat tinggi antara India dan Rusia biasanya diadakan pada Desember

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Perdana Menteri India Narendra Modi tidak akan mengadakan pertemuan puncak tahunan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Langkah ini diambil setelah Putin menyatakan ancaman akan menggunakan senjata nuklir dalam perang di Ukraina.

"Hubungan antara India dan Rusia tetap kuat, tetapi mengumandangkan persahabatan pada saat ini mungkin tidak bermanfaat bagi Modi," kata seorang pejabat senior yang mengetahui masalah tersebut dan berbicara dengan syarat anonim, seperti dilaporkan Bloomberg, Jumat (9/12/2022).

Baca Juga

Ini akan menandai kedua kalinya pemimpin India dan Rusia tidak bertemu secara langsung sejak tahun 2000, ketika hubungan tersebut ditingkatkan menjadi kemitraan strategis. Pertemuan tingkat tinggi antara India dan Rusia biasanya diadakan pada Desember. Pertemuan ini sebelumnya pernah dibatalkan sebanyak satu kali, yaitu pada 2020 karena pandemi Covid-19.

Seorang pejabat Rusia yang mengetahui persiapan itu mengonfirmasi tidak akan ada konferensi tingkat tinggi (KTT) tahun ini. Pejabat yang berbicara dengan syarat anonim itu menyatakan dalam pertemuan puncak regional pada September di Uzbekistan, Modi mendesak Putin untuk mencari perdamaian di Ukraina.

 

Juru bicara Kementerian Luar Negeri India tidak menanggapi permintaan komentar melalui email. Sementara perwakilan dari Kremlin juga tidak menanggapi permintaan komentar mengenai dibatalkannya KTT antara Rusia dan India.

India diam-diam mengurangi keterlibatannya karena perang Rusia di Ukraina memasuki bulan ke-10. Hal ini memicu lonjakan harga energi dan pangan. Pemerintah Modi sedang mencoba untuk menyeimbangkan posisi antara Moskow, sebagai penyedia utama senjata dan energi murah, dengan AS serta sekutunya yang telah memberlakukan sanksi dan pembatasan harga pada minyak Rusia.

Pemerintahan Modi abstain dari pemungutan suara di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengutuk invasi Rusia di Ukraina. Modi juga menahan diri untuk berpartisipasi dalam upaya yang dipimpin AS untuk memberikan sanksi kepada Moskow. India justru menggunakan kesempatan itu untuk mengimpor minyak Rusia dengan harga murah.

Dalam editorial di surat kabar Times of India awal bulan ini, yang menandai presidensi India untuk negara-negara Kelompok 20 (G20), Modi membuat referensi terselubung tentang perang Rusia. "Dunia tetap terperangkap dalam pola pikir zero-sum. Kami melihatnya ketika negara-negara memperebutkan wilayah atau sumber daya. Kami melihatnya ketika persediaan barang-barang penting dipersenjatai," ujar Modi.

Sikap New Delhi terhadap Rusia mendapat tekanan dari AS dan negara-negara lain yang telah bersekutu dengan India untuk melawan ketegasan China yang tumbuh di sepanjang perbatasan Himalaya. India juga membuat marah Jepang karena bergabung dalam latihan perang Vostok-2022 yang dipimpin Rusia. Latihan ini diadakan di Pulau Kuril.

Pulau Kuril menjadi sengketa antara Rusia dan Jepang. Pulau Kuril di wilayah selatan diklaim oleh Rusia. Sementara Pulau Kuril wilayah utara diklaim oleh Jepang. Sengketa wilayah ini dimulai sejak akhir Perang Dunia Kedua.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA