Saturday, 6 Rajab 1444 / 28 January 2023

Adzan di Masjid Katara Qatar Pikat Penikmat Piala Dunia 2022

Jumat 09 Dec 2022 18:01 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Ani Nursalikah

Masjid Katara atau dikenal sebagai Masjid Biru terus menjadi salah satu tempat terpenting dan menonjol bagi wisatawan yang berada di Qatar untuk Piala Dunia FIFA 2022 dan kegiatan terkait lainnya. Adzan di Masjid Katara Qatar Pikat Penikmat Piala Dunia 2022

Masjid Katara atau dikenal sebagai Masjid Biru terus menjadi salah satu tempat terpenting dan menonjol bagi wisatawan yang berada di Qatar untuk Piala Dunia FIFA 2022 dan kegiatan terkait lainnya. Adzan di Masjid Katara Qatar Pikat Penikmat Piala Dunia 2022

Foto: Gulf Times
Penikmat Piala Dunia kagum dengan kemegahan masjid dan tertarik dengan adzan.

REPUBLIKA.CO.ID, DOHA -- Masjid Katara atau dikenal sebagai Masjid Biru terus menjadi salah satu tempat terpenting dan menonjol bagi wisatawan yang berada di Qatar untuk Piala Dunia FIFA 2022 dan kegiatan terkait lainnya.

“Dengan panggilan adzan untuk setiap sholat, masjid membuka pintunya untuk semua pengunjung, terlepas dari afiliasi dan kepercayaan mereka," ucap Yayasan Desa Budaya Katara dalam sebuah pernyataan, dikutip di Gulf Times, Jumat (9/12/2022).

Baca Juga

Para pelancong ini disebut terkagum-kagum dengan kemegahan masjid, yang mewujudkan mahakarya arsitektur menjulang tinggi di jantung kawasan budaya tersebut. Tak hanya itu, mereka juga terpesona dengan kemegahan desainnya yang menonjolkan kombinasi unik, memadukan berbagai seni Islam lintas zaman, diiringi semangat yang merasuk dan mendorong mereka belajar tentang budaya Islam.

Dengan suaranya yang lembut saat melantunkan adzan, imam dan khatib Masjid Katara Syekh Muhammad Makki berhasil menarik perhatian kerumunan besar turis asing di tengah interaksi yang mereka lakukan. Terlihat jelas di wajah mereka dampak dari panggilan sholat ini. Pengunjung merasakan kehebatan adzan.

Pengunjung begitu terpesona dengan adzan sehingga mereka buru-buru mendengarkan dan merekamnya dengan ponsel yang ada. Masjid Katara telah menyiapkan toilet di dekat masjid. Mereka juga bekerja sama dengan banyak lembaga untuk menyediakan pembelajaran tentang kehidupan sosial di Qatar. Sejumlah relawan menjawab pertanyaan para pengunjung.

Mashael al-Shammari dari Pusat Tamu Qatar mengatakan dia menemukan keinginan besar di antara semua turis untuk belajar tentang Islam sebagai agama, budaya, adat istiadat, dan tradisi. Dia juga merasakan perasaan kagum, puas dan bersyukur selama kunjungan orang ke Qatar dari segi keselamatan dan keamanan, sambutan hangat, rasa hormat dan penghargaan dari semua orang.

Hal ini disebut menunjukkan bukti kunjungan mereka ke Katara telah berkontribusi dalam membentuk citra yang benar dari komunitas Arab dan Islam, yang tidak seperti yang digambarkan oleh media Barat. Sejumlah pengunjung pun mengungkapkan kebahagiaan mereka saat mengunjungi Katara. Hal ini mewujudkan tengara budaya, mencakup mutiara budaya dan warisan Arab dan Islam.

Tak hanya itu, kunjungan para tamu ini memungkinkan mereka mengenal lebih dekat budaya Arab dan Islam serta nilai kemanusiaan dan prinsip moral yang melimpah. Salah satu pelancong dari Amerika Serikat, Eileen, mengungkapkan kebahagiaan atas keramahtamahan dan penerimaan yang ia temukan di setiap tempat yang dikunjungi. Ia juga menemukan citra yang berbeda saat di Qatar, yakni merasa lebih aman dan terjamin di Doha daripada di kota asalnya, New York.

Sheikh Muhammad Makki mengatakan mayoritas wisatawan dari Eropa dan Amerika Latin tertarik ke masjid karena alasan konstruksi, teknik dan arsitekturnya yang indah. Alasan kedua adalah semangat yang mereka miliki ketika mendengar adzan dan pertanyaan yang muncul, tentang memperjelas makna adzan dan belajar prinsip-prinsip agama yang benar.

Ia pun berupaya mengekspresikan kebahagiaan dengan resonansi dan efek luar biasa yang dicapai adzan di hati dan jiwa pengunjung asing. Dia melakukan diversifikasi saat melafalkan adzan di antara tempat-tempat suci yang berbeda, mulai dari al-Saba, al-Rust, al-Hijaz, al-Bayat hingga al-Nahwand.

Upayanya ini menghasilkan keinginan orang untuk belajar tentang budaya Islam dan nilai-nilainya yang kaya, saling ketergantungan, persaudaraan, perdamaian dan koeksistensi antara budaya dan peradaban. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA