Tuesday, 9 Rajab 1444 / 31 January 2023

Yuk Bisa Yuk Optimistis di Tahun Depan

Sabtu 10 Dec 2022 04:11 WIB

Red: Joko Sadewo

 Seorang pria memegang uang kertas  saat melakukan transaksi di pasar tradisional Lambaro, Aceh Besar, Rabu, 28 September 2022. Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa Indonesia akan menghadapi perjuangan ekonomi karena ekonomi dunia akan memasuki ambang resesi pada 2023, sejalan dengan tren kenaikan suku bunga, yang dilakukan oleh sebagian besar bank sentral dunia.

Seorang pria memegang uang kertas saat melakukan transaksi di pasar tradisional Lambaro, Aceh Besar, Rabu, 28 September 2022. Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa Indonesia akan menghadapi perjuangan ekonomi karena ekonomi dunia akan memasuki ambang resesi pada 2023, sejalan dengan tren kenaikan suku bunga, yang dilakukan oleh sebagian besar bank sentral dunia.

Foto: EPA-EFE/HOTLI SIMANJUNTAK
Pemerintah mulai optimistis menyambut tahun depan.

Oleh : Fuji Pratiwi, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, "Saya bilang pada Sri Mulyani jangan takut-takuti orang tahun depan akan kiamat. Saya telepon jangan begitu. Ini negeri luas tidak semuanya (krisis). Kalau ada masalah, hadapi, kita jangan takut," begitu kata mantan presiden Jusuf Kalla (JK) di Jakarta, akhir Oktober lalu.

Wanti-wanti JK terhadap pemerintah tentu bisa kita pahami. Hantaman proyeksi suram tahun depan yang terus-menerus oleh pejabat pemerintah bisa membuat masyarakat takut sungguhan. Seakan tahun depan cuma berisi awan kelabu, hujan, dan dingin.

Memang, kabar horor PHK di sejumlah perusahaan baik manufaktur maupun start up kita dengar belakangan ini. Jelas itu memprihatinkan. Ini perlu pembahasan tersendiri karena menyangkut beberapa aspek.

Pun benar bahwa ancaman resesi ekonomi itu ada, terutama pada negara maju. Resesi adalah kondisi ekonomi yang tumbuh negatif selama dua kuartal berturut dalam satu tahun. Lalu, apakah resesi ekonomi di seberang samudera sana akan berimbas ke Indonesia? Belum tentu.

Mengapa begitu? Mari cek sejumlah kabar.

Pertama, setelah ada kabar "teguran" JK itu, tona pemerintah soal proyeksi ekonomi jadi lebih optimistis. Presiden Joko Widodo bahkan menyampaikan pesan Managing Director IMF Kristalina Georgieva yang mengatakan kalau Indonesia merupakan titik terang di tengah kesuraman ekonomi global. Hal itu berdasarkan angka-angka sejumlah indikator utama ekonomi seperti inflasi, Purchasing Manager Index, dan ekspor.

"Kenapa tidak optimis kalau angka-angkanya menunjukkan seperti ini? Harus optimistis," ujar Jokowi.

Kedua, tahun Pilpres sudah dekat dan 2023 adalah masa pemanasan. Ini kabar baik buat UMKM. Tukang buat spanduk, usaha kaos dan sablonya, penyewaan sound system, sampai pedagang makanan insya Allah bakal dapat imbas positifnya.

Selain itu, sektor pariwisata yang mulai kembali bergerak ikut membawa angin segar bagi UMKM dan sektor-sektor terkait wisata. Apalagi, acara-acara internasional juga sudah ditetapkan untuk digelar tahun depan. Seperti MotoGP di Mandalika, NTB, dan F1H2O alias balap perahu internasional di Danau Toba, Sumatra Utara.

Ketiga, coba lihat penjualan konser-konser musik tahun depan. Ludes terjual. Tiket konser Blackpink sudah habis dalam 15 menit saat penjualannya. Tiket konser boyband Irlandia, Westlife, juga habis terjual bahkan penyelenggara bakal menjual tiket tambahan. Konser Sheila on 7 dan Dewa 19 juga habis diserbu penikmat musik 90an.

Yang dekat, coba lihat mal-mal di akhir pekan dan diskon e-commerce tiap tanggal kembar. Semoga ini jadi sinyal baik kita masih bisa survive di tahun depan dan tahun-tahun ke depannya. Amin

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA