Saturday, 6 Rajab 1444 / 28 January 2023

Korsel: Korut Kembali Tembakkan Artileri ke Zona Penyangga

Senin 05 Dec 2022 17:29 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Friska Yolandha

 FILE - Foto yang diberikan oleh pemerintah Korea Utara ini menunjukkan uji tembak rudal balistik antarbenua Hwasong-17 di Bandara Internasional Pyongyang di Pyongyang, Korea Utara, Jumat, 18 November 2022. Wartawan independen tidak diberi akses untuk meliput peristiwa yang digambarkan dalam gambar yang didistribusikan oleh pemerintah Korea Utara ini. Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un yang berpengaruh, telah memperingatkan Amerika Serikat bahwa mereka akan menghadapi krisis keamanan yang lebih fatal karena Washington mendorong kecaman PBB atas uji coba rudal balistik antarbenua Korea Utara baru-baru ini.

FILE - Foto yang diberikan oleh pemerintah Korea Utara ini menunjukkan uji tembak rudal balistik antarbenua Hwasong-17 di Bandara Internasional Pyongyang di Pyongyang, Korea Utara, Jumat, 18 November 2022. Wartawan independen tidak diberi akses untuk meliput peristiwa yang digambarkan dalam gambar yang didistribusikan oleh pemerintah Korea Utara ini. Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un yang berpengaruh, telah memperingatkan Amerika Serikat bahwa mereka akan menghadapi krisis keamanan yang lebih fatal karena Washington mendorong kecaman PBB atas uji coba rudal balistik antarbenua Korea Utara baru-baru ini.

Foto: Korean Central News Agency/Korea News Service
JCS mengatakan telah mengirim peringatan ke Korut atas penembakan tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Militer Korea Selatan (Korsel), Joint Chiefs of Staff (JCS) mengatakan bahwa Korea Utara (Korut) menembakkan sekitar 130 peluru artileri ke zona penyangga maritim timur dan barat pada Senin (5/12/2022). Uji senjata Korut merupakan latihan militer terbaru di dekat perbatasan bersama mereka di tengah sanksi keras Korsel, Amerika Serikat (AS) dan Jepang atas uji senjata Pyongyang.

"JCS mendeteksi tembakan artileri, yang diduga melibatkan beberapa peluncur roket, dari Kabupaten Kumgang di Provinsi Kangwon dan Tanjung Jangsan di Provinsi Hwanghae Selatan, mulai pukul 14.59," kata JCS dikutip kantor berita Yonhap News Agency, Senin.

Baca Juga

Peluru-peluru itu dikatakan mendarat di laut di zona penyangga maritim di utara Garis Batas Utara (NLL), perbatasan laut de facto. Wilayah itu ditetapkan berdasarkan perjanjian militer antar-Korea yang ditandatangani pada 19 September 2018, untuk mengurangi ketegangan perbatasan.

JCS mengatakan telah mengirim peringatan ke Korut atas penembakan tersebut. Peringatan menegaskan bahwa langkah Pyongyang menunjukkan pelanggaran perjanjian militer. Pihaknya juga menyerukan penghentian segera provokasi.

"Penembakan artileri ke zona penyangga maritim timur dan barat jelas merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan militer 19 September dan kami sangat mendesak Korut untuk segera menghentikannya," kata JCS.

Pernyataan JCS kemudian menambahkan bahwa militer Korsel sedang melacak dan memantau gerakan Korut. Pihaknya bersama dengan AS juga  memperkuat postur kesiapan dalam persiapan menghadapi kemungkinan kontinjensi.

Kantor Kabupaten Cheorwon, 71 kilometer timur laut Seoul, telah mengunggah di situs webnya sebuah pengumuman Angkatan Darat bahwa militer akan mengadakan latihan tembakan langsung, yang melibatkan beberapa peluncur roket dan aset lainnya, di unit perbatasan pada Senin dan Selasa. Guncangan uji terbaru Korut terjadi setelah Seoul, Washington, dan Tokyo memberlakukan sanksi mandiri tambahan terhadap individu dan institusi yang terkait dengan program pengembangan senjata Korut dalam langkah terkoordinasi pekan lalu.

Perjanjian Militer Komprehensif (CMA) 2018 adalah kesepakatan paling substantif yang dihasilkan dari pertemuan berbulan-bulan antara pemimpin Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan saat itu Moon Jae-in. Namun, dengan pembicaraan yang lama terhenti, latihan baru-baru ini dan unjuk kekuatan di sepanjang perbatasan berbenteng antara Korea telah menimbulkan keraguan tentang masa depan tindakan tersebut. 

Korsel menuduh Korut berulang kali melanggar perjanjian dengan latihan artileri tahun ini. Tahun ini Korut melanjutkan pengujian rudal balistik antarbenua (ICBM) jarak jauh untuk pertama kalinya sejak 2017.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA