Sunday, 7 Rajab 1444 / 29 January 2023

Salvador Kerahkan 10 ribu Pasukan ke Daerah Kekuasaan Gerombolan Penjahat

Ahad 04 Dec 2022 17:57 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha

Tentara tiba di Soyapango, El Salvador, Sabtu, 3 Desember 2022. Pemerintah El Salvador mengirim 10.000 tentara dan polisi untuk menutup Soyapango, di pinggiran ibu kota negara pada hari Sabtu untuk mencari anggota geng.

Tentara tiba di Soyapango, El Salvador, Sabtu, 3 Desember 2022. Pemerintah El Salvador mengirim 10.000 tentara dan polisi untuk menutup Soyapango, di pinggiran ibu kota negara pada hari Sabtu untuk mencari anggota geng.

Foto: AP Photo/Salvador Melendez
Sebanyak 8.500 tentara dan 1.500 agen mengepung kota.

REPUBLIKA.CO.ID, SAN SALVADOR -- Presiden Salvador Nayib Bukele mengumumkan akan mengerahkan 10 ribu pasukan keamanan ke pinggir Ibu Kota San Salvador yang dikenal sebagai markas gerombolan penjahat. Langkah ini merupakan eskalasi terbaru dalam perang terhadap gerombolan penjahat yang dimulai sejak bular Maret lalu. 

Kelompok hak asasi manusia mengatakan langkah ini diwarnai penangkapan sewenang-wenang. "Soyapango benar-benar terkepung," cicit presiden itu di Twitter, Sabtu (3/12/2022) malam waktu setempat.

Baca Juga

Ia merujuk pada kota madya di sebelah timur ibu kota yang dikenal sebagai marka gerombolan penjahat Mara Salvatrucha dan Barrio 18.

"Sebanyak 8.500 tentara dan 1.500 agen mengepung kota, sementara tim ekstraksi dari kepolisian dan tentara ditugaskan mengekstraksi semua anggota gerombolan penjahat yang masih di sana satu demi satu," katanya.

Perwakilan pemerintah menolak memberikan komentar soal pengerahan pasukan ini. Foto-foto yang dirilis pemerintah menunjukkan pasukan membawa senjata berat, helm dan rompi anti peluru dan naik kendaraan tempur.

Populasi kotamadya itu sekitar 300 ribu orang dan sebelumnya dianggap tidak bisa ditembus penegak hukum. Sejak memulai rencananya memerangi kelompok penjahat, Bukele telah memerintahkan penangkapan lebih dari 50 ribu anggota penjahat yang dianggap sebagai teroris dan ia tolak prosedur dasar hak asasinya.

Rencana itu untuk mengurangi angka pembunuhan di negara Amerika Tengah tersebut. Setelah puluhan warganya tewas dibunuh dalam satu pekan pada Maret lalu. 

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA