Tuesday, 9 Rajab 1444 / 31 January 2023

IDAI: Suplemen tak Bisa Gantikan Imunisasi

Jumat 02 Dec 2022 08:51 WIB

Red: Ratna Puspita

Ilustrasi Petugas kesehatan memberikan vaksin polio kepada seorang anak. Suplemen tidak bisa menggantikan imunisasi untuk mencegah penularan infeksi penyakit menular.

Ilustrasi Petugas kesehatan memberikan vaksin polio kepada seorang anak. Suplemen tidak bisa menggantikan imunisasi untuk mencegah penularan infeksi penyakit menular.

Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Orang tua diminta untuk melengkapi imunisasi anak sesuai yang anjuran Kemenkes.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Anggota Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof Dr dr Soedjatmiko, Sp.A(K) mengatakan suplemen tidak bisa menggantikan imunisasi untuk mencegah penularan infeksi penyakit menular seperti campak, polio, difteri, dan pertusis. Untuk itu, ia mengingatkan orang tua untuk melengkapi imunisasi anak sesuai yang dianjurkan oleh pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI.

"Suplemen perlu diberikan, tetapi tidak bisa menggantikan fungsi imunisasi. Mau suplemen apapun, termasuk air susu ibu (ASI)," kata dokter yang akrab disapa Miko itu dalam bincang-bincang kesehatan yang digelar daring diikuti di Jakarta, Kamis (1/12/2022).

Baca Juga

Menurut Miko, imunisasi akan merangsang kekebalan tubuh spesifik. Misalnya vaksin campak, maka akan merangsang kekebalan agar tubuh siap menghadapi virus campak.

Begitu virus campak menyerang tubuh anak yang sudah diimunisasi campak, kata dia, anak tersebut akan lebih terlindungi karena di dalam tubuhnya sudah memiliki antibodi terhadap virus tersebut.

Sedangkan suplemen, makanan, dan ASI eksklusif, menurut Miko, tidak dapat menghasilkan antibodi spesifik sehingga hanya bisa mempercepat proses penyembuhan ketika anak terserang penyakit. "Memang ada gunanya, kalau sakit bisa mempercepat penyembuhan. Tapi tidak bisa menggantikan. Dalam ASI tidak ada antibodi spesifik, adanya antibodi bersifat umum. Kalau bersifat umum, kekuatannya tidak sebagus antibodi yang spesifik," ujar Miko.

"Buktinya apa? Negara dengan gizinya bagus, ASI-nya eksklusif lengkap, tetap melakukan imunisasi. Boleh cek semua negara di dunia melakukan imunisasi, tidak ada yang tidak," katanya.

Selain itu, ia juga mengatakan penting bagi orang tua memastikan penerapan protokol kesehatan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) karena sebagian besar penyakit menular dapat masuk ke tubuh melalui hidung dan mulut.

"Dengan cuci tangan itu kita bisa menghindari (penularan). Tapi yang paling penting memang imunisasi, karena jika masuk (virusnya) dapat dicegah (agar kondisinya tidak memburuk)," kata Miko.

"Jadi lengkapilah imunisasi anak cucu kita, keponakan kita, karena pencegahan yang paling efektif selama ini, penelitian di semua negara, adalah imunisasi. Kalau vaksinnya lengkap, maka antibodi spesifik tadi juga lengkap,” katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA