Tuesday, 16 Rajab 1444 / 07 February 2023

Optimalisasi Nikmat Usia

Kamis 01 Dec 2022 17:42 WIB

Red: Agung Sasongko

Nikmat usia merupakan salah satu nikmat yang kerap dilupakan manusia (ilustrasi)

Nikmat usia merupakan salah satu nikmat yang kerap dilupakan manusia (ilustrasi)

Foto: pxhere
Sekian banyak nikmat Allah SWT yang sering kita lupakan adalah nikmat usia

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh :Hasan Yazid Al-Palimbngy

Di antara sekian banyak nikmat Allah SWT yang sering kita lupakan adalah nikmat usia (waktu luang/kesempatan) dan nikmat sehat.Padahal tak ada seorang pun di antara kita yang mampu membendung perjalanan usia. Bila sedetik berlalu dari kehidupan kita, sesungguhnya ia telah menjadi masa lalu yang tidak akan kembali lagi.

Baca Juga

Rasulullah bersabda :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ (رواه البخاري)

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”.'[HR Bukhari, no. 5933].

Yang perlu kita sadari bahwa ketika waktu berlalu begitu saja tanpa amal ibadah atau aktivitas positif yang dilakukan, artinya kita kehilangan kesempatan untuk beribadah di waktu yang sudah berlalu.Bagi yang tadi malam tidak sempat shalat tahajjud, maka ia tidak akan bisa melakukan tahajjud yang semalam dia abaikan.Padahal saat sudah semua amal itu ingin sekali kita kerjakan saat sudah di kubur.Daripada menginginkan sesuatu di saat yang tidak akan bisa kita lakukan mending sekarang ketika masih masih ada memungkinkan untuk kita kerjakan.

Ni'mat sehat akan terasa pada saat sakit.Tanpa nikmat sehat, kita tidak akan sempurna dalam beribadah. Begitu pun tanpa nikmat sempat, kita sulit menemukan waktu luang untuk beribadah.Mari kita renungkan, sudahkah kita hidup dengan mengoptimalkan setiap detik usia atau menyia-nyiakannya?

Kita sering terjebak dalam kemacetan berpikir (pemikiran yang konyol) tentang potensi usia yang Allah SWT anugerahkan pada kita. Banyak yang berpikir, saya baru akan berbuat baik, pergi ke masjid, mengaji dan ibadah lainnya nanti setelah usia lima puluhan, enam puluhan bahkan tujuh puluhan.

Usia adalah hal yang pertamakali dimintai pertanggung jawaban 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah SAW bersabda,

عن أبي بَرْزَةَ نَضْلَةَ بن عبيد الأسلمي رضي الله عنه مرفوعاً: «لا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَومَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ؟ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ فِيهِ؟ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ؟ وفِيمَ أَنْفَقَهُ؟ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ؟».  

[صحيح] - [رواه الترمذي والدارمي]

المزيــد ....

Daru Abu Barzah Naḍlah bin Ubaid Al-Aslami -raḍiyallāhu 'anhu- secara marfū', (Nabi bersabda), "Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat kelak hingga ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya, untuk apa ia pergunakan? Tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan? Dan tentang tubuhnya, untuk apa ia pergunakan?" (Hadis sahih - Diriwayatkan oleh Tirmiżi)

Kualitas orang beriman

 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ رضي الله عنه أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ وَشَرُّالنَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَسَا ءَ عَمَلُهُ )رواه الترمذى.(

“Dari Abdullah bin Busr ra meriwayatkan bahwa ada seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” Beliau menjawab: “Siapa yang paling panjang umurnya dan baik amalannya. Dan seburuk-buruk manusia siapa yang panjang umurnya dan buruk amalnya” (HR Tirmidzi).

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Al-Fawaid berkata,

اِضَاعَةُ الوَقْتِ اَشَدُّ مِنَ الموْتِ لِاَنَّ اِضَاعَةَ الوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الآخِرَةِ وَالموْتِ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَاَهْلِهَا

“Menyia-nyiakan waktu itu lebih parah dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari (mengingat) Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”

 أعمارُ أمَّتي ما بينَ الستينَ إلى السبعينَ وأقلُّهم مَنْ يجوزُ ذلِكَ

“Umur umatku itu antara 60 sampai 70 tahun, dan sedikit orang yang melewati umur tersebut.” (HR. At-Tirmidzi no. 3550, Ibnu Majah no. 4236, dihasankan oleh Syekh Albani)

Mumpung masih ada kesempatan, mari kita isi sisa usia kita dengan memperbanyak amal ibadah, baik ibadah individual dan ibadah sosial.Seperti yang dinasehatkan oleh seorang ulama Sufi Fudhail bin 'Iyadh :

 تُحسن فيما بقى ، يغفر الله لك ماقد مضى وما بقى

فإنك إن أسأت فيما بقى أُخذت بما مضى وما بقى

Artinya : “Isilah sisa-sisa hidup Anda dengan kebaikan, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosa yang Anda lakukan baik itu di masa lalu maupun selama sisa-sisa hidup Anda. Sebaliknya, bila Anda mengisi sisa-sisa hidup Anda dengan perbuatan dosa maka Anda akan mendapatkan hukuman akibat dari dosa-dosa yang Anda lakukan baik itu pada waktu yang lalu maupun selama sisa-sisa hidup Anda”.

Semoga kita semua dibimbing dan diberi kekuatan oleh Allah SWT agar tetap istiqamah taat padaNya dan di akhir hayat kita diwafatkan husnul khootimah.Aamiin

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA