Monday, 8 Rajab 1444 / 30 January 2023

Beras Melimpah, Pemprov Jabar dan Jatim Minta tak Impor dan Siap Pasok ke Gudang Bulog

Kamis 01 Dec 2022 10:22 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Gita Amanda

Petani merontokan padi di Sindarasa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, (ilustrasi).

Petani merontokan padi di Sindarasa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, (ilustrasi).

Foto: ANTARA/Adeng Bustomi
Pemerintah pusat diharapkan tak melakukan impor beras dan memenuhi kebutuhan mandiri

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Provinsi Jawa Barat (Jabar) dan Jawa Timur (Jatim) merupakan produsen beras nasional tertinggi. Produksi beras di tahun 2022 mengalami surplus sehingga meminta kepada pemerintah pusat untuk tidak mengadakan importase beras dan siap memasok beras ke gudang Bulog guna memenuhi kebutuhan dalam negeri secara mandiri.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat Dadang Hidayat menyampaikan angka sementara BPS tahun 2022, produksi padi Jawa Barat bulan September-Desember 2022 sebanyak 2,7 juta ton gabah kering giling (GKG) dan produksi ini setara dengan 1,56 juta ton beras.

Baca Juga

“Bila jumlah penduduk Jawa Barat saat ini berdasarkan data BPS tahun 2020 sebanyak 49,93 juta orang dengan tingkat konsumsi beras berdasarkan data Dusenas DKPP Jawa Barat tahun 2021, maka kebutuhan beras rakyat Jawa Barat sebanyak 1,38 juta ton sehingga Jawa Barat masih surplus beras sebesar 178.883 ton beras,” Kata Dadang dalam merespon isu rencana impor beras saat ini, Bandung, Kamis (1/12/2022), seperti dalam siaran pers.

Dadang menyebutkan stok beras sampai tersebar dihampir semua Kabupaten/ Kota di Jawa Barat serta berupa stok sebanyak kurang lebih 10 persen dari surplus yaitu berupa stok beras di penggilingan dan digudang pedagang sebanyak dengan total 15.968,19 ton. Dan harga rata-rata gabah kering panen sebesar Rp 4.886, sehingga jika beras impor masuk langsung membuat harga gabah dan beras anjlok.

“Disamping stok dipenggilingan dan gudang pedagang tentunya beras Jawa Barat juga tersebar dan tersimpan berupa stok di rumah tangga,” ucap Dadang.

Tidak hanya itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur (Jatim) Hadi Sulistyo juga menyampaikan stok beras Jatim dalam kondisi aman bahkan masih surplus. Diketahui, produksi padi Jatim pada periode Januari-Oktober 2022 diperkirakan mencapai 9,2 juta ton atau setara dengan 5,9 juta ton beras. Sedangkan kebutuhan untuk konsumsi masyarakat Jatim pada periode Januari-Oktober 2022 sebesar 2,8 juta ton. “Sesuai data, stok beras menunjukkan bahwa Jawa Timur masih suplus,” kata Hadi.

Pada November 2022, Provinsi Jatim juga panen beras dengan luas panen mencapai 105 ribu hektare, setara beras 389 ribu ton. Dari hasil faktual, di beberapa penggilingan padi kecil dan pedagang-pedangan Jatim terdata ada 57 ribu ton beras dan masih banyak gabah kering giling maupun beras dipenggilingan padi besar yang tersedia.

“Jadi bisa dipastikan bahwa beras di Jawa Timur tersedia dan stok aman. Kami sangat berharap agar tidak impor, tapi stok dalam negeri diserap dengan optimal oleh Bulog sesuai harga yang berlaku di lapangan sehingga membantu dan mensejahterakan petani,” tukas Hadi.

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, mengatakan, akan memastikan betul kecukupan produksi beras lokal sebelum mengeksekusi importasi beras sebesar 500 ribu ton. Keputusan impor perlu dilakukan hati-hati agar tidak menimbulkan gejolak dalam negeri yang dapat dipolitisasi hingga menekan pemerintah.

"Rakortas (rapat koordinasi terbatas) sudah memutuskan, saya datangkan impor 500 ribu ton dan dari dalam negeri yang dijanjikan Mentan itu 550 ribu ton. Hanya saya berkeinginan pastikan dulu dalam negeri," kata Budi.

Ia menuturkan, hingga kini Bulog masih menunggu kesiapan pasokan beras lokal dari para petani yang difasilitasi melalui Kementerian Pertanian. Fokus pemerintah, lanjut dia, ada pada stabilisasi harga pangan dan cadangan beras pemerintah (CBP) yang dapat digunakan jika terdapat gejolak dalam negeri. 

Terlebih, sebentar lagi akan memasuki periode liburan Natal dan Tahun Baru di mana permintaan beras dipastikan naik signifikan. "Tugas saya untuk menekan inflasi dengan memastikan kebutuhannya cukup. Ini tidak main-masin karena permasalahan soal pangan," kata dia.

Oleh sebab itu, Budi menegaskan, jika nantinya kesiapan beras dalam negeri tidak dapat mencukup cadangan beras pemerintah, impor bakal dilakukan. Namun, ia mengakui melakukan importasi beras saat ini bukan hal mudah.

Sebab, periode akhir tahun akan cenderung sulit mencari kapal logistik. "Belum lagi anomali cuaca, gelombang-gelombang besar, ini juga menjadi masalah. Ini saya sampaikan semua. Artinya saya kerja tidak pernah merasa tertekan menjadi beban," ujar dia.

Baca juga : Dosen IPB University Buat Beras Analog Ubi Jalar Ungu

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA