Tuesday, 16 Rajab 1444 / 07 February 2023

Wahdah Islamiyah Siap Ambil Peran Menurunkan Stunting

Kamis 01 Dec 2022 09:26 WIB

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil

Wahdah Islamiyah Siap Ambil Peran Menurunkan Stunting. Foto: Ustadz KH Muhammad Zaitun Rasmin

Wahdah Islamiyah Siap Ambil Peran Menurunkan Stunting. Foto: Ustadz KH Muhammad Zaitun Rasmin

Foto: Republika TV/Surya Dinata
Wahdah Islamiyah baru menyelesaikan Mukernas di Kota Makassar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Wahdah Islamiyah baru saja menyelesaikan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) ke XV di Kota Makassar Sulawesi Selatan. Ketua Umum Wahdah Islamiyah KH Zaitun Rasmin mengatakan, banyak program kerja yang dibahas dalan Mukernas ini, salah satunya menurunkan stunting seperti yang diminta Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Menko PMK), Muhadjir Effendy.

"Dalam kuliah umumnya beliu meminta Wahdah Islamiyah mengambil peran untuk menurunkan stunting. Dan kami sampaikan siap menerima arwhan itu," kata KH Zaitun Rasmin, saat dihubungi Republika, Rabu (30/11/2022).

Baca Juga

Zaitun Rasmin menyampaikan bahwa Prof Muhadjir Effendy menegaskan, salah satu tugas Wahdah Islamiyah sebagai ormas Islam adalah melakukan pengendalian dan penyelenggaraan pemerintahan di bidang pembangunan manusia. Menurutnya, bahwa untuk melahirkan SDM yang berkualitas harus dimulai dari hulunya.

"Menurut beliau bahwa pendidikan harus dimulai dari hulunya," katanya.

Caranya dengan memperbaiki dan mengawal dengan baik utamanya bagi ibu hamil, agar memperhatikan janinnya dengan baik. Karena mana mungkin kita bisa mendidiknya dengan baik kalau tidak memiliki fisik yang kuat.

"Sehingga fokus utama kita adalah bagaimana mencegah stunting," katanya.

Zaitun Rasmin mengatakan, bahwa Pemerintah Indonesia melalui Kemenko PMK sedang memperbaiki sektor sumber daya manusia dimulai dari yang paling hulu. Tidak mungkin kata dia, membangun Indonesia langsung sektor pendidikan tanpa dimulai dari yang paling hulu.

"Bagian paling hulu ini adalah penanganan stunting," katanya.

Guna menekan angka stunting dan mencetak generasi emas Indonesia tahun 2045, Menko PMK tersebut menegaskan, pendidikan calon pengantin (catin) juga sangat penting untuk dilakukan. Intervensi pada catin menurutnya sangat penting sebagai upaya preventif mencegah bayi stunting.

"Upaya itu dilakukan dengan pendidikan catin yang ditindaklanjuti pendampingan kesiapan menikah dan hamil kepada catin," katanya.

Berdasarkan laporan BPS, angka stunting di Indonesia berada di angka 24,4 persen Presiden Joko Widodo telah menargetkan pada tahun 2024 angka stunting di Indonesia minimal sudah di angka 14 persen.  Sehingga butuh penanganan yang serius secara bersama, salah satunya pemberian ASI bagi anak.

“Salah satu cara pencegahan stunting adalah dengan memberikan ASI kepada bayi, bukan menggunakan produk-produk yang ada," katanya.

Karena kata dia, berdasarkan hasil penelitian bahwa kecerdasan anak sangat dipengaruhi besar oleh komsumsi mereka termasuk ASI tersebut. Begitupun dengan partumbuhan fisiknya.

Muhadjir Effendy menegaskan bahwa upaya penurunan stunting dimulai sejak remaja. Remaja terutama bila sudah baligh, memasuki masa haid. Maka harus diupayakan tidak mengalami anemia. Sehingga salah satu program Menko PMK diberbagai daerah di Indonesia adalah menyalurkan tablet darah kepada para siswi atau pelajar.

"Menurutnya, remaja kita harus diberikan tablet tambah darah," katanya.

Selain itu, upaya pemerintah dalam meningkatkan SDM juga dengan memperhatikan pendidikan usia dini (PAUD) dan juga sekolah dasar. Sehingga tidak ada lagi anak-anak bangsa yang tidak melanjutkan pendidikan dengan alasan apapun, utamanya persoalan biaya.

Arahan dari pemerintah agar tidak ada lagi anak bangsa yang tidak melanjutkan pendidikan di usia dini dan sekolah dasar. Jika mereka tidak memiliki kepampuan biaya, maka segera dilaporkan kepada pemerintah setempat agar diberikan bantuan pendidikan, bahkan presiden memberikan perhatian khusus bagi anak yatim agar diberikan Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk melanjutkan pendidikannya.

Muslimah Wahdah sendiri yang menjadi bagian dari Wahdah Islamiyah menyambut baik hal tersebut, Ketua Muslimah Wahdah Pusat, Ustadzah Harisa Tipa Abidin berkesempatan untuk menyampaikan secara langsung bahwa seluruh anggota Muslimah Wahdah yang tersebar pada 34 provinsi siap untuk menjadi bagian penanganan stunting.

"Pada kesempatan ini mohon kiranya arahan dan bimbingan, seperti apa kedepannya bisa mengambil peran lebih konkret lagi dalam berbagai problematika bangsa ini," tanyanya di hadapan Menko.

Pada kesempatan itu, Menko PMK dengan tegas agar Wahdah Islamiyah segera membuat MoU bersama BKKBN untuk melakukan kerjasama utamanya dalam penanganan stunting tersebut. Sehingga semua elemen umat Islam terlibat dalam menurunkan stunting.

"Buat saja kerjasama MoU dengan BKKBN untuk pusat, nanti kami yang minta respon. Intinya kita ingin semua elemen umat Islam harus merupakan rangkaian yang saling menguatkan dan membuat warna yang indah dan alat perekatnya adalah ukhuwah Islamiyah," pungkasnya.

Begitupun dengan Paud, Ustadzah Harisa Tipa Abidin juga meminta agar adanya akselerasi PAUD agar bisa memenuhi kebutuhan 150 ribu PAUD di Indonesia. Berdasarkan data PAUD yang dibina oleh Wahdah Islamiyah sekitar 145 PAUD, dan jumlah keseluruhan lembaga pendidikan dengan berbagai tingkatan, mulai PAUD hingga PT sekitar 390 dengan jumlah siswa 80.000 yang tersebar mulai dari Aceh sampai Papua.

Diketahui, bahwa Muslimah Wahdah juga telah melakukan berbagai upaya salah satunya adalah membekali calon pengantin dengan ilmu tentang anak, juga melakukan kerja sama dengan BKKBN untuk menurunkan angka stunting dengan edukasi berbasis kelompok masyarakat terpadu misalnya FKMT dengan melibatkan binaan majelis taklim juga mengusulkan untuk melibatkan anak-anak muda di program GENRE yangg di usung oleh BKKBN.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA