Sunday, 7 Rajab 1444 / 29 January 2023

Tekan Biaya Dana, BTN Fokus Tingkatkan Margin

Rabu 30 Nov 2022 21:40 WIB

Red: Christiyaningsih

Komisaris Utama Bank BTN Chandra Hamzah (kelima kiri) bersama Direktur Utama Bank BTN Haru Koesmahargyo (kelima kanan) bersama jajaran direksi dan komisaris foto bersama saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Bank BTN di Jakarta, Rabu (2/3/2022).

Komisaris Utama Bank BTN Chandra Hamzah (kelima kiri) bersama Direktur Utama Bank BTN Haru Koesmahargyo (kelima kanan) bersama jajaran direksi dan komisaris foto bersama saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Bank BTN di Jakarta, Rabu (2/3/2022).

Foto: Antara/Reno Esnir
Hingga Oktober 2022, Bank BTN meraih laba bersih Rp 2,49 triliun

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) fokus meningkatkan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) dengan melakukan perbaikan struktur dana serta menggenjot produk pembiayaan bermargin tinggi (high yield margin). Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Keuangan BTN Nofry Rony Poetra dalam pertemuan dengan media massa, Rabu (30/11/2022).

Nofry menjabarkan NIM BBTN pada akhir September 2022 mencapai 4,51%, meningkat signifikan dibandingkan setahun sebelumnya yang tercatat 3,52%. “Kami akan fokus meningkatkan NIM dengan menurunkan biaya dana dan mengeluarkan produk high yield margin,” ujarnya.

Baca Juga

Dalam menurunkan biaya dana, BBTN fokus pada pengembangan dana murah melalui produk tabungan dan giro (current account saving account/CASA). Hal ini berkat transformasi cabang yang dilakukan oleh BBTN sejak 2019 lalu. 

"Jadi cabang saat ini fokus untuk jualan baik funding maupun lending. Dulu cabang KPI (key performance indicator) tidak fokus terhadap jualan, karena juga ngurusin operation. Mulai dari procurement sampai analisa kredit," ujarnya.

Seperti diketahui BTN saat ini juga melakukan transformasi digital dengan BTN Mobile. Ada sekitar 375 fitur yang telah ditambahkan ke dalam BTN Mobile untuk memudahkan transaksi perbankan dan memberikan customer experience yang lebih baik. 

BTN juga tercatat sedang dan telah mengembangkan tabungan bisnis yang diperuntukkan untuk transaksi perbankan para pelaku usaha. Produk ini diharapkan menggaet dana developer yang selama ini sudah menjadi nasabah kredit, tapi masih menggunakan bank lain untuk transaksi bisnis.

Sebagai informasi, produk tabungan dan giro (current account saving account/CASA) BBTN tumbuh 18,7% secara year on year menjadi Rp 143,59 triliun pada akhir September 2022. CASA berkontribusi 45% terhadap total DPK senilai Rp 312,84 triliun. Kenaikan dana murah ini berhasil menekan biaya dana atau cost of fund pada akhir September 2022 menjadi 2,36% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,28%

Untuk menggenjot produk bermargin tinggi, BTN getol memasarkan produk Kredit Agunan Rumah (KAR) atau dikenal sebagai KPR Top Up. Produk ini diperuntukan bagi nasabah eksisting BTN yang ingin melakukan top up plafon pinjaman untuk kebutuhan usaha ataupun renovasi rumah. 

Menurut Nofry, potensi pasar untuk KPR Top Up sangat besar karena ada 500 ribu sampai 600 ribu nasabah KPR BTN yang sudah menjalani 10 tahun cicilan. Nasabah tersebut terekam memiliki kinerja cicilan yang bagus sehingga layak untuk dibiayai kembali.

Nofry menambahkan produk high yield margin lainnya adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR). Saat ini portofolio KUR BBTN masih dikisaran Rp 500-600 miliar dan akan ditingkatkan sekitar enam kali lipat menjadi Rp 3 triliun.

Pada kesempatan yang sama Nofry memproyeksi BTN bisa meraih laba bersih sekitar Rp 2,9 triliun hingga Rp 3 triliun pada kinerja full year 2022. Jika dibandingkan dengan kinerja keuangan tahun 2021, laba bersih BBTN bisa melesat di kisaran 22,36% sampai 26,58% pada akhir tahun ini. "Laba akhir tahun diperkirakan bisa mencapai Rp2,9 triliun hingga Rp 3 triliun," ujar Nofry.

Hingga Oktober 2022, Bank BTN meraih laba bersih Rp 2,49 triliun melesat 44,43% dibandingkan Oktober 2021 yang tercatat Rp 1,72 triliun. Dari Laporan Keuangan Bulanan Bank BTN yang dikutip Selasa (29/11/2022), pencapaian tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan baik dari bunga maupun pendapatan berbasis komisi (fee based income).

Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BBTN melesat 29,81% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 12,66 triliun. Sedangkan DPK BTN per Oktober 2022 meningkat 1,92% yoy menjadi Rp 314,65 triliun. Hal ini mencerminkan adanya perbaikan struktur DPK sehingga biaya dana bisa ditekan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA