Friday, 12 Rajab 1444 / 03 February 2023

Nabi Muhammad SAW Pilih Hidup Sederhana Meski Sebetulnya Kaya

Selasa 29 Nov 2022 21:22 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil

Ilustrasi kaligrafi Nabi Muhammad

Ilustrasi kaligrafi Nabi Muhammad

Foto: Dok Republika
Sebagian sahabat Nabi Muhammad hidup berkecukupan.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Sholahuddin Al Aiyub menjelaskan bagaimana perilaku hidup Nabi Muhammad SAW. Dia mengatakan, Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-harinya hanya memenuhi kebutuhan primernya.

"Yang dilakukan Nabi Muhammad SAW hanya memenuhi kebutuhan primer saja. Bajunya dan makanannya, sangat terbatas. Untuk mengikuti beliau SAW (dalam memenuhi kebutuhan hidup) memang agak sulit dan tidak bisa menjadi ukuran," tutur dia kepada Republika.co.id, Selasa (29/11/2022).

Baca Juga

Meski demikian, Kiai Sholahuddin melanjutkan, sebagian sahabat Nabi Muhammad SAW memiliki kehidupan yang berkecukupan. Terhadap kehidupan para sahabat yang berkecukupan itu, Nabi Muhammad SAW mendiamkannya.

"Diamnya Nabi terhadap sahabat yang memenuhi kebutuhan primer dan sekundernya itu menjadi dalil, yaitu hadits taqririyah," terangnya.

Pilihan Nabi Muhammad SAW untuk hidup sederhana itu bukan berarti beliau melarang umatnya menjadi kaya. Apalagi, Nabi SAW adalah seorang pedagang yang sukses tetapi hartanya lebih banyak didonasikan untuk orang-orang yang membutuhkannya.

"Ini contoh yang diajarkan beliau SAW. Kehidupan Nabi SAW memang terbatas. Kamar beliau sangat terbatas. Standar kehidupan beliau hanya untuk memenuhi kebutuhan primernya saja," jelasnya.

Namun, Nabi Muhammad SAW sebetulnya kaya. Bahkan saat mengkhitbah Siti Khadijah, Nabi Muhammad menyerahakn mahar sebanyak 20 unta bakrah dengan kualitas terbaik. Bahkan bila dirupiahkan sesuai zaman sekarang, total nilai mahar untuk Siti Khadijah itu setara Rp 600 juta sampai Rp 1 miliar.

Sedangkan mahar Nabi SAW untuk para istrinya, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Aisyah RA, yakni sebanyak 12 uqiyah dan satu nasy, yang totalnya setara 500 dirham atau 200 gram emas, atau setara Rp 195.400.000 dengan asumsi harga emas per gramnya Rp 977 ribu.

"Tetapi beliau SAW sebetulnya kaya, kemudian ketika menjadi Nabi, beliau mengambil sikap untuk hidup sederhana. Beliau pun tidak mengomentari sahabatnya yang memenuhi kebutuhan primer dan juga sekunder. Tetapi beliau mengajarkan tidak boleh berlebihan," papar Kiai Sholahuddin.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA