Tuesday, 9 Rajab 1444 / 31 January 2023

Iran Akhirnya Akui Secara Terbuka Tengah Bangun Rudal Balistik Hipersonik

Kamis 10 Nov 2022 23:41 WIB

Rep: Rizky Jaramaya. Mabruroh / Red: Nashih Nashrullah

 Sebuah rudal Penghancur Khaibar dibawa melewati potret Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (ilustrasi). Rudal balistik hipersonik Iran akan mampu menjangkau wilayah musuh

Sebuah rudal Penghancur Khaibar dibawa melewati potret Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (ilustrasi). Rudal balistik hipersonik Iran akan mampu menjangkau wilayah musuh

Foto: AP/Vahid Salemi
Rudal balistik hipersonik Iran akan mampu menjangkau wilayah musuh

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Kantor berita semi-resmi Tasnim yang mengutip Komandan Kedirgantaraan Garda Revolusi Iran, Amir Ali Hajizadeh, mengatakan, Iran telah membangun sebuah rudal balistik hipersonik. Rudal ini memiliki kecepatan tinggi dan dapat bermanuver keluar masuk atmosfer.   

"Ini akan menargetkan sistem anti-rudal canggih milik musuh dan merupakan lompatan besar generasi di bidang rudal," kata Ali Hajizadeh. 

Baca Juga

Rudal hipersonik dapat terbang setidaknya lima kali lebih cepat dari kecepatan suara dan pada lintasan yang kompleks, sehingga membuatnya sulit untuk dicegat. 

Namun, sejauh ini belum ada laporan bahwa Iran melakukan uji coba rudal hipersonik. Sementara Iran telah mengembangkan industri senjata domestik yang besar dalam menghadapi sanksi dan embargo internasional. 

Para analis militer Barat menyatakan, Iran terkadang melebih-lebihkan kemampuan senjatanya. 

Pekan lalu, Iran telah menguji Ghaem 100, yaitu kendaraan peluncur ruang angkasa pertamanya, yang akan mampu menempatkan satelit seberat 80 kilogram (180 pon) di orbit dengan jarak 500 kilometer (300 mil) dari permukaan bumi. 

Amerika Serikat (AS) menyebut tindakan seperti itu mengganggu stabilitas, karena kendaraan peluncuran ruang angkasa dapat digunakan untuk mengangkut hulu ledak nuklir.

Kekhawatiran tentang rudal balistik Iran  berkontribusi terhadap keputusan Amerika Serikat yang menarik diri dari perjanjian nuklir Iran atau JCPOA pada 2018, di bawah pemerintahan mantan Presiden Donald Trump. 

Ketika itu, Amerika Serikat juga menjatuhkan sanksi yang menyebabkan perekonomian Iran terpuruk. Sejak itu, Iran mulai meningkatkan pengayaan uranium mendekati tingkat senjata nuklir. Namun Iran membantah ingin mengembangkan senjata nuklir.   

Pada Maret 2022 lalu, Kepala Komando Pusat Amerika Serikat (AS) Jenderal Kenneth McKenzie memperingatkan Israel pada Selasa (15/3/2022), bahwa Iran memiliki 3.000 rudal. Di mana rudal tersebut diperkirakan mampu mencapai Tel Aviv.         

“Pada tingkat militer, kekhawatiran saya adalah pertama-tama bahwa mereka tidak memiliki senjata nuklir, tetapi saya juga sangat prihatin dengan pertumbuhan dan efisiensi yang luar biasa dari program rudal balistik mereka,” kata McKenzie kepada Komite Angkatan Bersenjata Senat dilansir dari ABNA 24, Kamis (17/3/2022).  

Kata-kata Jenderal Amerika Serikat itu muncul sepekan setelah dia bertemu dengan Menteri Keamanan pendudukan Israel Benny Gantz dan Kepala Staf IOF Aviv Kochavi.   

"Mereka memiliki lebih dari 3.000 rudal dari berbagai jenis, beberapa di antaranya dapat mencapai Tel Aviv," kata McKenzie menanggapi pertanyaan komite senat. "Belum ada yang bisa mencapai Eropa," tambahnya. 

Dia juga mengklaim bahwa kemampuan rudal Iran adalah ancaman terbesar bagi keamanan kawasan. Seraya menambahkan bahwa Iran telah mengembangkan gudang rudal balistik berhulu ledak nuklir  

Menurut pejabat tinggi pertahanan Amerika Serikat, Republik Islam telah menguji platform senjata ini beberapa kali, selain itu, Teheran juga telah banyak berinvestasi dalam program rudal balistiknya selama lebih dari setengah dekade terakhir.    

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA