Saturday, 2 Jumadil Awwal 1444 / 26 November 2022

Wapres Sebut Stunting Bisa Jadi Sumber Malapetaka

Jumat 07 Oct 2022 00:10 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Agung Sasongko

Wapres RI, Maruf Amin

Wapres RI, Maruf Amin

Foto: Satwapres
Pemerintah berupaya menekan angka prevalensi stunting di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA--Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan stunting bisa menjadi sumber malapetaka jika tidak ditangani dengan baik. Ma'ruf mengingatkan luasnya dampak stunting tidak hanya di isu kesehatan tetapi juga menyangkut pendidikan, perekonomian hingga masa depan pembangunan negara.

"Dampak stunting sangat luas, stunting itu berdampak bukan hanya pada kesehatan tapi juga kepada ekonomi, kepada pendidikannya nanti tidak baik, itu stunting sumber malapetaka kalau tidak kita atasi," ujar Ma'ruf  dalam acara Halaqoh Nasional Pelibatan Penyuluh Agama, Da'i, dan Da'iyah untuk mendukung percepatan penurunan stunting di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (6/10/2022).

Baca Juga

Ma'ruf mengatakan, di tengah Indonesia yang akan mendapatkan bonus demografi, terdapat tantangan masih banyaknya anak yang mengalami stunting. Dia mengatakan, hasil Studi Status Gizi Indonesia 2021 mencatat kurang lebih 1 dari 4 balita Indonesia mengalami stunting.

Stunting, kata Ma'ruf, berpotensi mendatangkan dampak berlipat, seperti mengganggu perkembangan otak anak, hingga mengancam raihan produktivitasnya ketika dewasa.

Karenanya, Pemerintah berupaya menekan angka prevalensi stunting di Indonesia hingga 14 persen pada 2024 mendatang. Sedangkan, angka prevalensi stunting berdasarkan data 2021 adalah 24,4 persen.

"Untuk mencapai target stunting 14% pada 2024, dibutuhkan kerja cepat, kerja cerdas, dan yang terpenting, kerja kolaborasi karena kerja berjamaah semua pihak, termasuk partisipasi aktif penyuluh agama, da’i, dan da’iyah," ujar Ma'ruf.

Dia pun meminta peran para dai untuk mempercepat upaya penurunan angka stunting di Indonesia. Kiai Ma'ruf pun meminta agar pencegahan stunting menjadi materi dalam khotbah, ceramah maupun dan tausyiah keagamaan.

"Khotbah, ceramah, dan tausiah dapat menjadi media pendidikan yang efektif untuk meneruskan pesan-pesan kebaikan kepada umat, termasuk edukasi bahaya stunting dan cara mencegahnya," ujarnya.

Kiai Ma'ruf mengatakan, para dai maupun penyuluh agama memiliki kekuatan besar dan masif dalam memberikan pengaruh yang signifikan dalam mengubah perilaku masyarakat. Khususnya melalui peran dan kontribusinya sebagai sumber ilmu (manbaul ‘ulum), pendidik (murabbi), penggerak (muharrik), dan tauladan (uswatun hasanah) bagi masyarakat dan jamaahnya.

Wapres mengatakan, dengan jumlah sekitar 50.232 orang di seluruh Indonesia, para penyuluh agama memiliki peran strategis dalam mendukung  upaya percepatan penurunan stunting.

"Tidak ubahnya dengan ini, peran da’i, da’iyah, dan penyuluh agama saya kira sangat vital, sebab mereka hadir langsung di tengah komunitas," ujarnya.

Untuk itu, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini mendorong pendakwah menyosialisasikan upaya percepatan penurunan stunting. Pertama, dengan mengajak hidup bersih dan sehat, kedua dengan makan makanan bergizi, pemberian pengasuhan yang baik, pemberian ASI eksklusif, dan lainnya.

"Saya minta agar para penyuluh agama, da’i, dan da’iyah mengajak masyarakat dengan cara-cara yang bijak enak, dengan ucapan yg bagus, ucapan mulia, ucapan santun, bermuatan edukatif dan dengan keteladanan yang baik dan pendekatan keagamaan yang bisa dipahami ini penting supaya dakwah berhasil," ujarnya,

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA