Wednesday, 6 Jumadil Awwal 1444 / 30 November 2022

BI: Tiga Prinsip Dasar Ekonomi Syariah Bisa Mitigasi Ketimpangan Sosial

Kamis 06 Oct 2022 11:56 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Gubernur Bank Indonesia membuka konferensi internasional dan call for papers //International Islamic Monetary Economics and Finance Conference & Call for Papers (IIMEFC)// ke-8 yang mengangkat tema “//Accelerating Inclusive and Sustainable Recovery with Sharia Economy: Issues, Challenges, and Prospects//

Gubernur Bank Indonesia membuka konferensi internasional dan call for papers //International Islamic Monetary Economics and Finance Conference & Call for Papers (IIMEFC)// ke-8 yang mengangkat tema “//Accelerating Inclusive and Sustainable Recovery with Sharia Economy: Issues, Challenges, and Prospects//

Foto: Bank Indonesia
BI sebut tiga esensi utama syariah jadi kunci proses pemulihan ekonomi yang inklusif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Prinsip dasar ekonomi Syariah adalah menjunjung tinggi keadilan, keseimbangan, dan kelestarian lingkungan. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan hal ini menjadi semakin relevan dalam memitigasi ketimpangan sosial ekonomi pascapandemi di tengah ketidakseimbangan yang ditimbulkan dari aktivitas perekonomian.

"Terdapat tiga esensi utama dalam memaknai kembali konsep keseimbangan ekonomi yang menjadi kunci dalam proses pemulihan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," katanya dalam pembukaan International Islamic Monetary Economics and Finance Conference & Call for Papers (IIMEFC) ke-8, Rabu (5/10).

Pertama, penajaman indikator pengukuran kemajuan ekonomi yang juga mempertimbangkan indikator kelestarian lingkungan selain indikator ekonomi konvensional seperti Produk Domestik Bruto (PDB). Kedua, inklusivitas guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan distribusi ekonomi ke masyarakat secara merata.

Ketiga, inovasi dan efisiensi antara lain melalui pemanfaatan digitalisasi secara luas. Perry juga menyampaikan ada sejumlah langkah strategis yang dapat dilakukan guna mencapai ekonomi inklusif dan berkelanjutan.

"Kita harus memaksimalkan kekuatan kebersamaan, the power of we, the power of jamaah," katanya.

Perlunya menciptakan dan mendesain proyek ekonomi yang digital, inklusif, dan hijau yang dapat dimulai dari pesantren sebagai salah satu potensi ekonomi umat yang besar. Lebih lanjut, mendesain dan mengembangkan struktur keuangan berbentuk blended finance yang merupakan kombinasi keuangan komersial dan keuangan sosial.

Penting juga untuk memanfaatkan dan mengakselerasi digitalisasi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Kebijakan Bank Indonesia dalam ekonomi dan keuangan syariah diarahkan untuk pro-growth atau mendukung pertumbuhan ekonomi.

Maka dari itu, BI setiap tahun rutin menggelar acara akbar yang melibatkan berbagai stakeholder untuk penguatan ekonomi dan keuangan syariah nasional. Acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) kesembilan diselenggarakan mulai 5-9 Oktober 2022 di Jakarta Convention Center (JCC) dan terbuka untuk umum.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA