Wednesday, 13 Jumadil Awwal 1444 / 07 December 2022

Korban Tewas Pengeboman Kelas di Afghanistan Melonjak Jadi 43 Jiwa

Senin 03 Oct 2022 17:52 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

Asap mengepul di langit setelah ledakan bom di Kabul, Afghanistan.  Pengebom meledakkan diri ketika ratusan siswa sedang mengikuti ujian praktik. Ilustrasi.

Asap mengepul di langit setelah ledakan bom di Kabul, Afghanistan. Pengebom meledakkan diri ketika ratusan siswa sedang mengikuti ujian praktik. Ilustrasi.

Foto: AP/AP
Pengebom meledakkan diri ketika ratusan siswa sedang mengikuti ujian praktik

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL - Misi PBB di Afghanistan mencatat peningkatan jumlah korban tewas akibat serangan bom bunuh diri di sebuah kelas di pusat pendidikan di Kabul. Korban jiwa pada Senin (3/10/2022) meningkat menjadi 43 jiwa.

"Sejumlah 43 orang tewas dan 83 orang terluka. Anak perempuan dan wanita muda adalah korban utama,” kata misi PBB seperti dikutip laman Al Arabiya International, Senin (3/10/2022). Pihaknya menambahkan bahwa korban diperkirakan akan meningkat lebih lanjut.

Baca Juga

Seorang pengebom bunuh diri meledakkan dirinya di sebelah wanita di ruang belajar yang dipisahkan berdasarkan gender di lingkungan Kabul pada Jumat pekan lalu. Lingkungan tersebut adalah rumah bagi komunitas Muslim Syiah Hazara yang tertindas secara historis.

Pengebom meledakkan diri ketika ratusan siswa sedang mengikuti ujian praktik jelang ujian masuk untuk masuk universitas. Sejauh ini belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab. Namun ISIS yang menganggap Syiah sebagai bidah telah melakukan beberapa serangan mematikan di daerah yang menargetkan anak perempuan, sekolah, dan masjid.

Pihak berwenang Taliban sejauh ini mengatakan 25 orang tewas dan 33 lainnya terluka dalam serangan itu. Kembalinya Taliban ke kekuasaan di Afghanistan tahun lalu mengakhiri perang dua dekade melawan pemerintah yang didukung Barat dan menyebabkan pengurangan kekerasan yang signifikan.

Kendati begitu keamanan mulai memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Kelompok garis keras ekstremis, yang dituduh gagal melindungi minoritas, sering kali mencoba mengecilkan serangan yang menentang rezim mereka.

Serangan Jumat lalu langsung memicu protes sporadis yang dipimpin perempuan di Kabul dan beberapa kota lainnya. Sekitar 50 wanita meneriakkan, "Hentikan genosida Hazara, bukan kejahatan menjadi seorang Syiah," saat mereka berbaris di lingkungan serangan terjadi, Dasht-e-Barchi.

Demonstrasi telah dibubarkan oleh pasukan Taliban yang kerap melepaskan tembakan ke udara dan memukuli pengunjuk rasa. Hazara Afghanistan telah menghadapi penganiayaan selama beberapa dekade.

Wilayah itu ditargetkan oleh Taliban selama pemberontakan mereka terhadap mantan pemerintah yang didukung AS dan oleh ISIS, keduanya menganggap Syiah sesat. Pada Mei tahun lalu, sebelum Taliban kembali berkuasa, sedikitnya 85 orang kebanyakan anak perempuan tewas dan sekitar 300 orang terluka ketika tiga bom meledak di dekat sekolah mereka di Dasht-e-Barchi.

Lagi-lagi tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas insiden itu. Namun setahun sebelumnya ISIS mengeklaim serangan bunuh diri di sebuah pusat pendidikan di daerah yang sama yang menewaskan 24 orang.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA