Monday, 4 Jumadil Awwal 1444 / 28 November 2022

Belajar dari Kanjuruhan, Psikolog Sosial Ungkap Hal yang Harus Dilakukan Massa-Aparat

Senin 03 Oct 2022 02:53 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Suporter Arema FC memasuki lapangan setelah tim yang didukungnya kalah dari Persebaya dalam pertandingan sepak bola BRI Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). Tragedi Kanjuruhan bisa dicegah jika massa menjaga mental kolektif dan aparat melakukan pendekatan yang humanis.

Suporter Arema FC memasuki lapangan setelah tim yang didukungnya kalah dari Persebaya dalam pertandingan sepak bola BRI Liga 1 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). Tragedi Kanjuruhan bisa dicegah jika massa menjaga mental kolektif dan aparat melakukan pendekatan yang humanis.

Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Aparat juga perlu mengedepankan komunikasi humanis dalam insiden seperti Kanjaruhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Psikolog sosial Juneman Abraham mengingatkan pentingnya menjaga mental kolektif. Ia mengatakan itu diperlukan untuk mencegah insiden seperti yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur usai pertandingan sepak bola Liga 1 antara Persebaya Surabaya dengan AremaFC pada Sabtu (1/10/2022).

Menjaga mental kolektif massa tetap positif penting sehingga ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi, masyarakat tetap bisa rasional menghadapi kejadian tersebut. Menurut Juneman, ini bukan perkara pendidikan mental individu, melainkan soal kebutuhan akan "mental model" yang baik, fair, dan damai dalam suasana kolektif.

Baca Juga

"Massa bisa mengimitasi atau meniru model yang baik jika ada banyak contoh," kata Juneman yang juga Ketua Kompartemen Riset dan Publikasi, Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia kepada Antara, Ahad (2/10/2022).

Juneman mengatkaan, dalam teori psikoanalisis sosial, kumpulan orang banyak atau bisa disebut juga massa digambarkan memiliki karakter yang bersifat cair. Artinya, meski terdiri dari kumpulan orang yang rasional, selalu ada peluang massa itu bersikap impulsif atau berbuat sesuatu tanpa berpikir panjang, reaktif, mudah tersinggung, dan mudah meniru perbuatan pihak lain yang tergabung dalam massa itu.

Kondisi itu juga menggambarkan mental kolektif yang sebenarnya bisa menghasilkan hasil positif apabila gaung dan pesan positif ditonjolkan. Kondisi ini tidak hanya terbatas pada penonton sepak bola saja, tapi juga kumpulan massa lainnya di berbagai lini kehidupan seperti penonton konser bahkan masyarakat yang mendukung pencalonan tokoh politik.

Untuk itu, jika mengambil konteks pertandingan olahraga, ada baiknya ketika suatu klub mengalami kekalahan, pendukung justru sebisa mungkin menyikapi kekalahan tersebut dengan lebih dewasa. Penonton seharusnya tidak meluapkan emosinya ke arah negatif seperti berucap kata tak pantas ataupun melempar barang ke klub lawan.

"Maka kita semua perlu mengusahakan untuk mengumpulkan contoh-contoh perilaku massa yang baik (tidak hanya dalam konteks olah raga) dan saling menularkan kisah-kisah tersebut," kata Juneman.

Juneman pun menyebutkan pelajaran lainnya yang bisa dipetik adalah dari segi psikologi lingkungan. Komunikasi dan respons petugas yang bertanggung jawab untuk ketertiban dan keamanan sebuah massa perlu mengedepankan komunikasi yang humanis sehingga tujuan menjaga sebuah acara berlangsung kondusif bisa tercapai.

"Respons-respons yang mengatasi kekerasan atau kerusuhan dengan jalan yang 'agak instan' perlu selalu dipinggirkan sebagai jalan utama," ujar Juneman.

Menurut Juneman, aparat perlu membangun resiliensi atau ketabahan fisik, pikiran, maupun emosi ketika menghadapi massa. Ini sangat penting untuk dimiliki aparat.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA