Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

Ekonom: Pelemahan Rupiah Diproyeksi Sementara

Ahad 02 Oct 2022 08:09 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolandha

Karyawan menghitung uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Kamis (29/9/2022). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada penutupan perdagangan Kamis (29/9/2022) sebesar 4 poin atau 0,03 persen ke level Rp15.262,50 per dolar AS. Prayogi/Republika.

Karyawan menghitung uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Kamis (29/9/2022). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada penutupan perdagangan Kamis (29/9/2022) sebesar 4 poin atau 0,03 persen ke level Rp15.262,50 per dolar AS. Prayogi/Republika.

Foto: Prayogi/Republika.
Ekonom memproyeksi rupiah berada di bawah Rp 15 ribu pada akhir 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, GIANYAR -- Selama sepekan terakhir ini, tren penguatan dolar AS terhadap mata uang global terus berlanjut sehingga mendorong pelemahan seluruh mata uang Asia termasuk Rupiah. Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan penguatan dolar AS dipengaruhi oleh pernyataan dari pejabat Fed yang mengonfirmasi kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Fed yang masih akan berlanjut dalam rangka meredam tekanan inflasi yang tinggi.

"Mempertimbangkan kondisi yang terjadi adalah sentimen penguatan dolar AS terhadap mata uang global termasuk Rupiah, maka diperkirakan sifatnya sementara dan belum menggambarkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia," katanya pada Republika, akhir pekan ini.

Baca Juga

Hal tersebut terindikasi dari Real Effective Exchange Rate dari Rupiah yang masih cenderung undervalued. Di tengah sentimen negatif di pasar keuangan global tersebut, Bank Indonesia tetap berada di pasar untuk tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi rupiah melalui triple intervention serta operation twist.

Josua mengatakan ini turut menjaga daya tarik investasi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik. Lebih lanjut, ekspektasi neraca transaksi berjalan yang masih berpotensi kembali surplus pada kuartal III 2022 karena ditopang oleh kinerja ekspor yang cukup solid terutama ekspor batubara.

Hal tersebut diharapkan akan mendorong posisi transaksi berjalan dalam keadaan yang sehat. Sehingga akan mendukung terjaganya keseimbangan pasokan dan permintaan valas di dalam negeri.

"Bank Indonesia juga berpotensi untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya ke level 5-5,25 persen hingga akhir tahun ini," kata dia.

Hal tersebut dalam rangka menjangkar inflasi yang cenderung meningkat di satu sisi, sekaligus disaat bersamaan untuk mendorong stabilitas nilai tukar rupiah. Oleh sebab itu mempertimbangkan faktor fundamentalnya, rupiah diperkirakan berpotensi untuk menguat kembali di bawah level Rp 15 ribu per dolar pada akhir tahun 2022 ini.

Kenaikan suku bunga Fed yang diperkirakan akan berada di level 4,5 persen hingga akhir 2022. Ini didasarkan pada kondisi inflasi yang belum turun signifikan bahkan setelah Fed sudah menaikkan sekitar 2,25 persen sejak Maret hingga Agustus 2022 yang dilanjutkan dengan kenaikan sebesar 75 bps pada bulan September ini.

"Pernyataan hawkish Fed tersebut telah mendorong kenaikan yield US Treasury (UST) yang sempat menembus level empat persen untuk pertama kalinya sejak tahun 2010," katanya.

Kenaikan yield UST disertai dengan pelemahan mata uang utama seperti Sterling dan Yen yang selanjutnya mendukung berlanjutnya penguatan dollar AS. Di tengah tren penguatan dolar AS terhadap mata uang global, tingkat depresiasi rupiah terhadap dolar AS tercatat minus 6,4 persen (ytd).

Tingkat pelemahan ini dinilai cenderung lebih rendah jika dibandingkan dengan mata uang Asia lainnya. Seperti Rupee India yang minus 8,6 persen (ytd), Ringgit Malaysia minus 10,2 persen (ytd), Peso Filipina yang minus 13,1 persen (ytd), Bhat Thailand minus 12,2 persen (ytd).

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA