Monday, 4 Jumadil Awwal 1444 / 28 November 2022

Krisis di Eropa, Ekonom: Pengaruhi Timeline Pemulihan Ekonomi

Rabu 28 Sep 2022 22:59 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Sejak Jumat (23/9), lampu-lampu di Menara Eiffel mulai dimatikan pada pukul 23.45 waktu setempat dalam upaya untuk menghemat listrik akibat krisis energi.Saat ini Eropa tengah bergelut dengan ancaman krisis energi. Hal ini imbas sanksi ke Rusia karena serangan Kremlin ke Ukraina membawa pasokan semakin menipis. Tak hanya itu saja, harga energi melambung diyakini menimbulkan krisis baru yakni keuangan.

Sejak Jumat (23/9), lampu-lampu di Menara Eiffel mulai dimatikan pada pukul 23.45 waktu setempat dalam upaya untuk menghemat listrik akibat krisis energi.Saat ini Eropa tengah bergelut dengan ancaman krisis energi. Hal ini imbas sanksi ke Rusia karena serangan Kremlin ke Ukraina membawa pasokan semakin menipis. Tak hanya itu saja, harga energi melambung diyakini menimbulkan krisis baru yakni keuangan.

Foto: Antara
Pengamat sebut krisis energi membawa ketidakpastian dalam pemulihan ekonomi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat ini Eropa tengah bergelut dengan ancaman krisis energi. Hal ini imbas sanksi ke Rusia karena serangan Kremlin ke Ukraina membawa pasokan semakin menipis. Tak hanya itu saja, harga energi melambung diyakini menimbulkan krisis baru yakni keuangan. 

Ekonom Center of Reform (Core) Indonesia Yusuf Rendy menilai krisis energi yang melanda beberapa negara di Eropa perlu diantisipasi. Hal ini mengingat kondisi krisis energi sebelumnya memberikan efek ketidakpastian dalam proses pemulihan ekonomi global. 

“Apalagi kita tahu beberapa negara Eropa tengah mengalami krisis energi adalah negara-negara yang kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) global itu relatif besar, sehingga ketika negara-negara ini terkena krisis energi dan berdampak terhadap pemulihan ekonomi mereka. Maka secara tidak langsung ini juga akan ikut memengaruhi rencana ataupun timeline pemulihan ekonomi global terutama pada tahun ini,” ujarnya ketika dihubungi Republika, Rabu (28/9/2022).

Menurutnya jika pemulihan ekonomi global terganggu dengan krisis energi yang terjadi di Eropa maka secara tidak langsung ini juga akan berdampak ke Indonesia. Meskipun jika dilihat imbas dari krisis ini akan tergantung dari negara-negara partner dagang utama Indonesia. 

“Jika berbicara dampak langsung saya kira beberapa negara Eropa mempunyai kontribusi yang relatif kecil jika dilihat dari perbandingan kinerja dagang dengan Indonesia. Namun demikian tentu harus diantisipasi apabila krisis energi ini justru akan misalnya memberikan dampak ke negara yang punya hubungan yang lebih besar dengan Indonesia seperti misalnya Cina dan Amerika Serikat,” ucapnya.

Rendy menyebut saat ini ada dua hal yang perlu dimitigasi oleh pemerintah. Pertama, dampak krisis energi terhadap kenaikan harga pangan. Kedua, pangan tersebut merupakan pangan yang merupakan komoditas impor yang dilakukan oleh Indonesia. 

“Jika berpotensi terdampak dengan kenaikan harga lapangan maka proses ataupun mitigasi yang dilakukan sudah harus dilakukan dari dini termasuk di dalamnya memantau kesiapan ataupun pasokan pangan kita sampai dengan akhir tahun nanti,” ucapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA