Monday, 4 Jumadil Awwal 1444 / 28 November 2022

Patroli AS Melihat Kapal Angkatan Laut China dan Rusia di Lepas Pulau Alaska

Rabu 28 Sep 2022 00:35 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani

 Sebuah kapal Penjaga Pantai Amerika Serikat (AS) yang berpatroli rutin di Laut Bering melihat sebuah kapal penjelajah rudal dari China.

Sebuah kapal Penjaga Pantai Amerika Serikat (AS) yang berpatroli rutin di Laut Bering melihat sebuah kapal penjelajah rudal dari China.

Foto: EPA-EFE/MC3 Jason Tarleton
AS melihat dua kapal angkatan laut China dan empat kapal angkatan laut Rusia

REPUBLIKA.CO.ID, ANCHORAGE -- Sebuah kapal Penjaga Pantai Amerika Serikat (AS) yang berpatroli rutin di Laut Bering melihat sebuah kapal penjelajah rudal dari China. Kapal penjelajah itu tidak sendirian, patroli juga melihat dua kapal angkatan laut China lainnya dan empat kapal angkatan laut Rusia, termasuk sebuah kapal perusak dalam formasi tunggal.

Kapal-kapal itu berlayar sekitar 86 mil atau 138 kilometer ke utara Pulau Kiska Alaska, pada 19 September. Kapal patroli Kimball yang berbasis di Honolulu, mengamati ketika kapal-kapal China dan Rusia itu memecah formasi dan membubarkan diri. Sebuah Hercules C-130 memberikan dukungan udara untuk Kimball dari stasiun Coast Guard di Kodiak.

“Sementara formasi telah beroperasi sesuai dengan aturan dan norma internasional, kami akan bertemu untuk memastikan tidak ada gangguan terhadap kepentingan AS di lingkungan maritim di sekitar Alaska,” ujar Komandan Distrik Penjaga Pantai Ketujuh Belas, Laksamana Muda Nathan Moore.

Penjaga Pantai mengatakan pedoman Operasi Perbatasan Sentinel menyerukan pertemuan "presence with presence" ketika pesaing strategis beroperasi di sekitar perairan AS. Kimball akan terus memantau area tersebut.

Formasi China dan Rusia di Alaska terjadi sebulan setelah Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg memperingatkan tentang kepentingan China dan pembangunan militer Rusia di Kutub Utara. Stoltenberg mengatakan, Rusia telah membentuk Komando Arktik baru, serta membuka ratusan situs militer Arktik baru dan bekas era Soviet, termasuk pelabuhan laut dalam dan lapangan terbang. Sementara China telah mendeklarasikan dirinya sebagai negara "dekat Arktik" dan berencana untuk membangun pemecah es terbesar di dunia.

“Beijing dan Moskow juga telah berjanji untuk mengintensifkan kerja sama praktis di Kutub Utara.  Ini merupakan bagian dari kemitraan strategis yang mendalam yang menantang nilai dan kepentingan kami,” kata Stoltenberg dalam kunjungan ke utara Kanada.

Ini bukan pertama kalinya kapal angkatan laut China berlayar di dekat perairan Alaska. Pada September 2021, kapal penjaga pantai di Laut Bering dan Samudra Pasifik Utara bertemu dengan kapal-kapal China, sekitar 50 mil atau 80 kilometer) dari Kepulauan Aleutian.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA