Friday, 15 Jumadil Awwal 1444 / 09 December 2022

Survei CSIS: Anak Muda Merasa tak Bebas Kritik Pemerintah

Senin 26 Sep 2022 21:02 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Ratna Puspita

Survei CSIS menemukan bahwa ada penurunan dukungan terhadap demokrasi di kalangan anak muda, yang diduga karena besarnya persentase anak muda yang merasa tidak bebas mengkritik pemerintah.

Survei CSIS menemukan bahwa ada penurunan dukungan terhadap demokrasi di kalangan anak muda, yang diduga karena besarnya persentase anak muda yang merasa tidak bebas mengkritik pemerintah.

Foto: Republika/Flori Sidebang
Survei CSIS temukan ada penurunan dukungan terhadap demokrasi di kalangan anak muda

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Survei terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menemukan bahwa ada penurunan dukungan terhadap demokrasi di kalangan anak muda. Penurunan demokrasi ini diduga terjadi karena besarnya persentase anak muda yang merasa tidak bebas mengkritik pemerintah. 

Ketua Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS Arya Fernandes mengatakan, survei yang digelar pada Agustus 2022 menunjukkan bahwa terdapat 63,8 persen responden yang mendukung demokrasi. Terjadi penurunan dukungan jika dibandingkan dengan hasil survei serupa yang dilakukan CSIS pada tahun 2018, di mana dukungan demokrasi masih 68,5 persen.

Baca Juga

"Kami duga, turunnya dukungan publik terhadap demokrasi ini ... terjadi karena aspek kepuasan terhadap praktik demokrasi itu sendiri," kata Arya saat memaparkan hasil surveinya secara daring, Senin (26/9/2022).

Dalam survei terbaru ini, kata Arya, sebanyak 62 persen responden mengaku puas dengan praktik demokrasi. Sedangkan 35,9 persen lainnya mengaku tidak puas. Tingginya angka ketidakpuasan itu berkaitan dengan kebebasan sipil yang dirasakan anak muda itu sendiri.

Arya mengatakan, dalam survei ini, pihaknya menguji persepsi anak muda terhadap enam indikator kebebasan sipil. Mulai dari kebebasan mengkritik pemerintah; kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum; kebebasan pers; kebebasan berekspresi di ruang publik; kebebasan berserikat, berkumpul dan berorganisasi; dan kebebasan akademik. 

Dari enam indikator tersebut, lima indikator di antaranya mendapat persentase di atas 70 persen. Artinya, 70 persen lebih responden menilai ada kebebasan.

Satu indikator yang mendapat persentase di bawah 70 persen adalah kebebasan menyampaikan kritik kepada pemerintah. Persinya, 43,9 persen responden merasa tidak bebas menyampaikan kritik kepada pemerintah, dan 54,3 persen lainnya merasa bebas. "Pada satu indikator ini, (persepsi) populasi anak muda terbelah," ujar Arya.

Menurut dia, rendahnya persentase anak muda yang merasakan kebebasan mengkritik pemerintah ini yang membuat kepuasan mereka terhadap demokrasi jadi rendah. Pada akhirnya, rendahnya angka kepuasaan itu mengakibatkan penurunan dukungan terhadap demokrasi alias regresi demokrasi dari kalangan anak muda.

Survei CSIS ini khusus memotret persepsi anak muda. Populasi survei ini adalah penduduk Indonesia berusia 17-39 tahun. Survei yang digelar pada awal Agustus 2022 ini menggunakan metode multistage random sampling.

Jumlah sampel survei ini adalah 1.200 responden yang tersebar secara proporsional di 34 provinsi. Setelah dilakukan proses kendali mutu, data yang valid untuk dianalisis sebesar 1.192 sample. Margin of error survei ini sebesar 2,84 persen, pada tingkat kepercayaan 95 persen. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA