Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

Bank Sentral Kompak Naikkan Suku Bunga, Pasar Saham Alami Tekanan Jual

Senin 26 Sep 2022 15:53 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha

Karyawan melihat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (10/8/2022). IHSG Senin ditutup melemah 0,71 persen atau 51,08 poin ke level 7.127,5.

Karyawan melihat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (10/8/2022). IHSG Senin ditutup melemah 0,71 persen atau 51,08 poin ke level 7.127,5.

Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
IHSG Senin ditutup melemah 0,71 persen atau 51,08 poin ke level 7.127,5.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasar saham mengalami tekanan jual setelah bank sentral AS, Federal Reserve (the Fed), kembali menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut tecermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi lebih dari satu persen dalam satu pekan terakhir. 

"Ya, pelemahan tersebut masih terkait keputusan the Fed menaikkan suku bunga acuan," kata Analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan kepada Republika.co.id, Senin (26/9/2022). 

Baca Juga

IHSG Senin ditutup melemah 0,71 persen atau 51,08 poin ke level 7.127,5. Sepanjang hari, IHSG tidak bergerak dari zona merah.

Seperti diketahui, the Fed pekan lalu mengerek suku bunga acuan hingga 75 bps untuk ketiga kalinya tahun ini. Kenaikan suku bunga terbesar minggu ini dilakukan oleh bank sentral Swedia (Riksbank) dengan 100 bps.

Di Asia Tenggara, Bank sentral Indonesia dan Filipina mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 50 bps. Bank sentral di dunia diyakini masih akan terus menaikkan suku bunga seiring sikap agresif the Fesd untuk menekan laju inflasi. 

Valdy mengatakan pasar saham masih berpotensi melemah karena the Fed juga cenderung melanjutkan kenaikan suku bunga acuan yang agresif untuk beberapa mendatang. Valdy menilai, ada peningkatan kekhawatiran ekonomi AS bisa memasuki kondisi resesi dalam 12 bulan ke depan.

Valdy menjelaskan, salah satu imbas langsung kenaikan suku bungan acuan the Fed adalah pelemahan nilai tukar Rupiah. Hal ini disebabkan kondisi ekonomi di Eropa saat ini relatif tidak begitu baik. Eropa tengah menghadapi kondisi inflasi tinggi dan penurunan aktivitas manufaktur, sehingga dolar AS cenderung menguat.

Dengan demikian, menurut Valdy, pelemahan IHSG masih berpotensi untuk berlanjut. Meski demikian, Valdy memperkirakan potensi pelemahannya akan mulai terbatas pada support kuat di kisaran level 6.900-7.000. Saat ini, IHSG sudah bergerak di rentang 7.039-7.178.

Dalam menyikapi penurunan di pasar saham ini, Valdy mengatakan, strategi investasi yang dilakukan akan sangat tergantung pada tujuan dan pendekatan dari investor. Bagi investor jangka panjang, kemingkinan ini waktu yang cukup menarik untuk buy on support.

"Namun bagi trader harus lebih disiplin dalam menerapkan trading plan yang sudah disusun. Jangan ragu untuk switching jika level pada trading plan telah tercapai," jelas Valdy. 

Valdy melihat, lonjakan suku bunga ini cukup mempengaruhi hampir seluruh sektor. Beberapa sektor yang paling sensitif dengan perubahan suku bunga antara lain properti, konstruksi dan bank. Selain itu, sektor yang sensitif dengan kenaikan Indeks harga konsumen (inflasi) yaknii consumer goods dan transportation/logistik.

Sebaliknya, untuk saat iniharga komoditas masih cukup berfluktuasi, jadi saham-saham komoditas masih layak untuk diperhatikan. Terlebih, energi merupakan salah satu kebutuhan pokok. Sekalipun ada kenaikan harga, kebutuhan energi tetap harus terpenuhi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA