Saturday, 13 Rajab 1444 / 04 February 2023

Atasi Stunting, PDIP Dorong Kampus Terlibat Bangun Kesadaran

Sabtu 24 Sep 2022 12:08 WIB

Red: Agung Sasongko

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Dr. Hasto Kristiyanto saat menghadiri kegiatan Bakti Sosial Bedah Minor, Sirkumsisi, dan Penyuluhan Stunting oleh Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Dr. Hasto Kristiyanto saat menghadiri kegiatan Bakti Sosial Bedah Minor, Sirkumsisi, dan Penyuluhan Stunting oleh Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh

Foto: istimewa
Anak-anak Indonesia diberikan gizi dan pendidikan yang cukup.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gaya hidup baru harus digelorakan untuk memastikan anak-anak Indonesia diberikan gizi dan pendidikan yang cukup. Karena menyelamatkan anak Indonesia dari stunting sama dengan menyelamatkan masa depan kita sendiri.

Hal itu diungkap oleh Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Dr. Hasto Kristiyanto saat menghadiri kegiatan Bakti Sosial Bedah Minor, Sirkumsisi, dan Penyuluhan Stunting oleh Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Kegiatan dipusatkan di RSUD Sabang, Provinsi Aceh, Sabtu (23/9/2022).

Baca Juga

Hasto menjelaskan bahwa stunting sebenarnya tak boleh terjadi di Indonesia. Sebab Indonesia kaya akan bahan pangan dan kuliner yang bergizi. Tetapi ada problem kultural.

Dia memberi contoh, daun kelor banyak tumbuh sebagai tanaman pagar. Namun, di mayoritas masyarakat Indonesia, makan daun kelor diangap tanda seseorang miskin. Padahal daun kelor itu kaya akan vitamin. 

“Faktanya kita hadapi masalah stunting. 1 dari 4 anak kita itu terkena stunting. Ini bukan sekedar masalah tinggi dan berat badan. Tapi juga soal kapasitas otak anak menyerap pengetahuan dan kesehatan,” kata Hasto dalam keterangan persnya.

“Kita bisa atasi stunting sepanjang terbangun kesadaran kita bahwa anak adalah masa depan. Jangan membuang masa depan kita. Kita harus berjuang menyiapkan anak-anak kita dengan gizi dan pendidikan yang baik,” tegasnya.

Menurut Hasto, harus dibangun kesadaran bagi para orang tua bahwa makanan di sekitar kita mengandung gizi dan vitamin yang baik. Bung Karno, di tahun 1956, bahkan pernah mengumpulkan resep bahan makanan seluruh Indonesia. Dan dibukukan dalam “Mustika Rasa”, lengkap dengan kandungan gizi dan porsi perkeluarga.

Dalam membangun kesadaran itu, Hasto meminta agar perguruan tinggi melibatkan diri. Dalam konteks Aceh, Hasto mendorong agar sivitas akademika Unsyiah, Universitas Islam Negeri Ar Raniry, dan Universitas Malikussaleh, menggelorakan spirit agar masyarakat memiliki daya imajinasi tentang anak adalah masa depan.

“Misalnya kampus menyiapkan menu makanan bagi balita yang harganya terjangkau dan bisa disediakan sendiri dan secara berdikari. Perguruan tinggi harus bergabung dan ikut melakukan edukasi ke masyarakat. Kita harus terdorong menyelamatkan masa depan dengan memberi gizi cukup bagi anak-anak kita,” ujar Hasto.

“Gaya hidup harus digelorakan bahwa anak harus dipersiapkan dengan gizi dan pendidikan cukup karena itu artinya kita menyelamatkan masa depan kita,” tegasnya.

Hasto menekankan, kalau setiap hari semuanya menggelorakan energi positif, maka itu akan menghasilkan tindak positif, dan ujungnya akan terbangun kultur positif. Maka gaya hidup sehat akan dapat dilakukan sebaiknya.

Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Marwan menyatakan salah satu masalah utama di Aceh adalah soal kesehatan. Untuk stunting, Aceh adalah nomor tiga terbawah. 

“Kalau dibiarkan akan berdampak ke generasi mendatang. Masalah stunting, 30 persen masalahnya adalah gizi dan kesehatan. Artinya perlu kolaborasi dengan pihak di luar kesehatan. Misal masalah sanitasi dan gaya hidup. Perlu kerja sama kita semua menyelesaikan hal ini,” kata Marwan.

Unsyiah sendiri terus memperkuat Fakultas Kedokteran demi mengatasi masalah itu. Pihaknya siap bekerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota di Aceh untuk terlibat mengatasi masalah ini. “Unsyiah akan hadir untuk kita semua,” imbuh Marwan.

Pj.Walikota Sabang Reza Fahlevi menambahkan kegiatan bakti sosial itu menyangkut kegiatan bedah minor, sirkumsisi, dan penyuluhan kesehatan. Walau dipusatkan di RSUD Sabang, namun kegiatan dilakukan di seluruh wilayah melalui berbagai Posyandu yang ada.

“Kami berharap dengan kegiatan ini dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada warga Sabang, dan tahu apa yang dilakukan dalam menangani stunting ke depannya,” kata Reza Fahlevi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA