Wednesday, 13 Jumadil Awwal 1444 / 07 December 2022

Keluarga Siswa Palestina Protes Perubahan Kurikulum Oleh Israel

Selasa 20 Sep 2022 07:41 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha

Warga Palestina meneriakkan slogan-slogan sambil mengibarkan bendera nasional mereka selama rapat umum yang diselenggarakan oleh faksi-faksi Palestina untuk mendukung penduduk Palestina di Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa, di jalan utama kamp pengungsi Nusseirat, Jalur Gaza tengah, Jumat, 16 September 2022. Keluarga siswa Palestina di sekolah Al Iman di Yerusalem menggelar aksi protes menentang perubahan kurikulum pendidikan oleh Israel.

Warga Palestina meneriakkan slogan-slogan sambil mengibarkan bendera nasional mereka selama rapat umum yang diselenggarakan oleh faksi-faksi Palestina untuk mendukung penduduk Palestina di Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa, di jalan utama kamp pengungsi Nusseirat, Jalur Gaza tengah, Jumat, 16 September 2022. Keluarga siswa Palestina di sekolah Al Iman di Yerusalem menggelar aksi protes menentang perubahan kurikulum pendidikan oleh Israel.

Foto: AP Photo/Adel Hana
Israel dinilai telah mendistorsi buku teks Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Keluarga siswa Palestina di sekolah Al Iman di Yerusalem menggelar aksi protes menentang perubahan kurikulum pendidikan oleh Israel. Para pengunjuk rasa mengatakan, Israel telah mendistorsi buku teks Palestina. 

"Itu menghapus identitas Palestina dari kurikulum Palestina," kata salah satu keluarga siswa, dilansir Middle East Monitor, Selasa (20/9/2022).

Baca Juga

Para pengunjuk rasa menggelar aksi protes di depan kantor pemerintahan Kota Beit Hanina. Mereka membuat spanduk dengan tulisan, "Kami menolak buku teks Israel."

Sebelumnya pada tanggal 28 Juli, Menteri Pendidikan Israel Yifat Shasha-Biton mencabut izin operasi permanen dari enam sekolah Al Iman di Yerusalem Timur. Pencabutan itu dilakukan dengan dalih bahwa kurikulum mereka berisi hasutan berbahaya terhadap pemerintah dan tentara Israel.

Keenam sekolah tersebut akan diberikan lisensi bersyarat selama satu tahun untuk mengubah kurikulum mereka. Jika tidak mengubah kurikulum mkaa sekolah Palestina itu akan kehilangan lisensi sepenuhnya.

Sejumlah kota Israel di Yerusalem mencetak ulang buku pelajaran untuk sekolah Palestina. Pencetakan ulang buku tersebut dilakukan setelah Israel menghapus sejarah yang berhubungan dengan identitas Palestina, termasuk perisitwa Nakba, tahanan, agresi Israel dan petunjuk bahwa Yerusalem Timur adalah ibu kota negara Palestina masa depan.

"Keluarga Yerusalem berkumpul di sini untuk mengirim pesan yang jelas. Kami adalah keluarga dari generasi masa depan yang akan mempertahankan kota ini. Kami tidak menerima domestikasi pemikiran anak-anak kami," ujar seorang pengunjuk rasa, Tareq Okosh dalam orasinya.

"Kami tidak mengizinkan identitas anak-anak kami ditawan di tangan pendudukan Israel. Kami tidak akan membiarkan siapa pun membuat mereka lupa bahwa mereka adalah orang Palestina, Arab, dan Muslim yang memegang bendera membela tempat-tempat suci di kota ini," kata Okosh menambahkan. 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA