Thursday, 10 Rabiul Awwal 1444 / 06 October 2022

Inggris: Rusia Terus Bombardir Kharkiv

Jumat 19 Aug 2022 15:47 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha

Peluncuran roket Rusia ke Ukraina dari wilayah Belgorod Rusia terlihat saat fajar di Kharkiv, Ukraina, Senin, 15 Agustus 2022.

Peluncuran roket Rusia ke Ukraina dari wilayah Belgorod Rusia terlihat saat fajar di Kharkiv, Ukraina, Senin, 15 Agustus 2022.

Foto: AP Photo/Vadim Belikov
17 orang tewas dan 42 lainnya terluka dalam dua serangan Rusia ke Kharkiv.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan Rusia terus membombardir bagian utara Kota Kharkiv, Ukraina. Sebagai upaya menekan pasukan Ukraina dan mencegah mereka digunakan untuk serangan balik di wilayah lain.

Dalam buletinnya, Jumat (19/8/2022) intelijen militer Inggris mengatakan Kharkiv yang terletak 15 kilometer dari garis pertahanan Rusia, terus dibombardir sejak Rusia menginvasi negara tetangganya. Daerah itu masuk dalam jangkauan artileri Rusia.

Baca Juga

Gubernur Kharkiv mengatakan 17 orang tewas dan 42 lainnya terluka dalam dua serangan Rusia ke Kharkiv yang merupakan kota terbesar kedua di Ukraina, pada Rabu (17/8/2022) dan Kamis (18/8/2022) kemarin. Rusia membantah sengaja mengincar warga sipil dalam apa yang mereka sebut "operasi militer khusus" di Ukraina.

Sebelumnya dilaporkan pasukan Ukraina mengatakan mereka memukul mundur serangan Rusia di Kota Kherson. Sementara total korban tewas akibat tembakan Rusia di Kota Kharkiv terus merangkak naik setelah perang berlangsung selama enam bulan tanpa henti.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres akan bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Turki Tayyip Erdogan pada Kamis di Kota Lviv. Mereka akan membahas cara untuk menemukan solusi politik atas perang yang sedang berlangsung.

Para pemimpin juga akan membicarakan ancaman perang terhadap pasokan makanan global dan resiko bencana pada pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Ukraina yang kini diduduki pasukan Rusia. Perang di Ukraina  menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan lainnya mengungsi.

Selain itu juga memperdalam keretakan geopolitik antara Barat dan Rusia. Moskow mengatakan tujuan invasi yang mereka sebut sebagai "operasi militer khusus" itu untuk mendemiliterisasi Ukraina dan melindungi pengguna bahasa Rusia di negara itu.

"Pasukan Rusia hanya mencapai kemajuan yang minimal, dan di sejumlah kasus kami telah maju, sejak bulan lalu," kata penasihat presiden Ukraina Oleksiy Arestovych dalam sebuah video.

"Kami sedang melihat 'kebuntuan strategi'," tambahnya.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA