Tuesday, 1 Rabiul Awwal 1444 / 27 September 2022

Pelaku Penikaman Salman Rushdie Mengaku tidak Bersalah

Jumat 19 Aug 2022 10:42 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha

 Hadi Matar, 24, tengah, mendengarkan pengacara pembela umum Nathaniel Barone, kiri, berbicara kepada hakim saat didakwa di Gedung Pengadilan Chautauqua County di Mayville, NY, Sabtu, 13 Agustus 2022. Matar mengaku tidak bersalah atas percobaan pembunuhan tingkat dua dan tuduhan penyerangan.

Hadi Matar, 24, tengah, mendengarkan pengacara pembela umum Nathaniel Barone, kiri, berbicara kepada hakim saat didakwa di Gedung Pengadilan Chautauqua County di Mayville, NY, Sabtu, 13 Agustus 2022. Matar mengaku tidak bersalah atas percobaan pembunuhan tingkat dua dan tuduhan penyerangan.

Foto: AP/Gene J. Puskar
Pelaku didakwa atas dakwaan percobaan pembunuhan dengan hukuman maksimal 25 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Seorang pria yang dituduh menikam novelis Salman Rushdie di barat New York, pada Kamis (18/8/2022) mengaku tidak bersalah atas percobaan pembunuhan tingkat dua dan tuduhan penyerangan. Pelaku yang diidentifikasi sebagai Hadi Matar ditahan tanpa jaminan.

Matar didakwa di Gedung Pengadilan Chautauqua County atas dakwaan percobaan pembunuhan tingkat dua, dengan ancaman hukuman maksimum 25 tahun penjara, dan dakwaan penyerangan.

Baca Juga

Matar telah berada di penjara sejak penangkapannya. Ketika sidang, dia mengenakan jumpsuit bergaris abu-abu, masker berwarna putih, dan tangannya diborgol. Hakim David Foley memerintahkan Matar untuk tidak melakukan kontak dengan Rushdie. Foley menyetujui permintaan pengacara pembelanya untuk mengeluarkan perintah pembungkaman sementara, yang melarang para pihak membahas kasus tersebut di media. Foley akan mempertimbangkan permintaan pembela untuk membebaskan Matar dengan jaminan. Matar akan kembali menjalani sidang pada September mendatang.

Serangan penikaman itu terjadi 33 tahun setelah pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ruhollah Khomeini, mengeluarkan dekrit yang menyerukan umat Islam untuk membunuh Rushdie. Seruan ini dicetuskan beberapa bulan setelah Rushdie menerbitkan buku "The Satanic Verses" atau "Ayat-Ayat Setan".

Buku tersebut menimbulkan kontroversi karena mengungkapkan penghinaan terhadap Nabi Muhammad. Rushdie bersembunyi di bawah perlindungan polisi Inggris selama sembilan tahun. Pada 1998, pemerintah pro-reformasi Iran di bawah Presiden Mohammad Khatami menjauhkan diri dari dekrit tersebut. Dia mengatakan bahwa, ancaman terhadap Rushdie telah berakhir.

Tetapi dekrit itu tidak pernah dicabut. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang merupakan penerus Khomeini, pada 2019 mengatakan bahwa dekrit terhadap Rushdie "tidak dapat dibatalkan."

sumber : Reuters
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA