Senin 15 Aug 2022 22:55 WIB

Pemkot Surakarta: Kesesuaian Data Covid-19 Masih Jadi PR

Hingga saat ini untuk data penambahan kasus dengan angka kesembuhan belum klop.

Pemkot Surakarta: Kesesuaian Data Covid-19 Masih Jadi PR (ilustrasi).
Foto: www.freepik.com
Pemkot Surakarta: Kesesuaian Data Covid-19 Masih Jadi PR (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,SOLO -- Pemerintah Kota Surakarta, Jawa Tengah menyatakan kesesuaian data kasus COVID-19 hingga saat ini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan mengingat angka kesembuhan yang tidak tercatat pada beberapa waktu terakhir.

Wakil Wali Kota Surakarta Teguh Prakosa mengatakan hingga saat ini untuk data penambahan kasus dengan angka kesembuhan belum klop.

Baca Juga

"Totalnya di Solo saat ini ada sekitar 150 kasus COVID-19, yang separuh pasti sudah sembuh (sudah beberapa waktu terakhir). Jadi ada penambahan kasus tapi sembuh nol, makanya ini perlu dicek lagi," katanya, Solo (15/8/2022).

Terkait hal itu, ia sudah meminta Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta untuk melakukan komunikasi dengan Kementerian Kesehatan termasuk Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Sementara itu, dikatakannya, karena hingga saat ini kasus COVID-19 di Solo masih tergolong landai, segala kegiatan yang sudah tercatat pada agenda pemerintah akan tetap terlaksana sesuai jadwal.

"Prediksi ahli Agustus ini puncaknya (penambahan kasus COVID-19). Harapannya kami tetap bisa menekan angka COVID-19 karena untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ini tidak bisa mundur lagi, jadwal hingga akhir tahun tetap kami lakukan," katanya.

Meski demikian, pihaknya tetap mengimbau seluruh pihak untuk patuh terhadap protokol kesehatan, termasuk di sekolah.

"Sekolah-sekolah untuk tetap prokes. Masker, cuci tangan, harus ditertibkan kembali," katanya.

Sementara itu, diakuinya, pada beberapa waktu terakhir kasus COVID-19 di Solo juga mencatatkan adanya kematian pada pasien. Meski demikian, pasien yang meninggal dunia di antaranya menderita komorbid dan lanjut usia.

"Yang meninggal rata-rata komorbid, nggak berani vaksin. Problemnya di sana, yang sudah vaksin lebih aman. Yang OTG (orang tanpa gejala) lebih banyak selamatnya," demikian Teguh Prakosa.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement