Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

ASEAN dan China Perkuat Kerja Sama Tanggap Darurat

Sabtu 13 Aug 2022 21:37 WIB

Red: Agung Sasongko

Waspada bencana hidrometereologi. Ilustrasi

Waspada bencana hidrometereologi. Ilustrasi

Foto: ANTARA FOTO/Rahmad
Asia merupakan kawasan paling rentan mengalami bencana alam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perhimpunan Bangsa-Bangsa di Asia Tenggara (ASEAN) dan China memperkuat kerja sama tanggap darurat bencana dengan menggelar simposium yang menghadirkan para pakar dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Simposium bertemakan "Bersama untuk Ketahanan Masyarakat" di Beijing pada Jumat (12/8/2022) yang digelar oleh ASEAN-China Center (ACC) itu dihadiri para duta besar dan diplomat negara anggota ASEAN di Beijing, pejabat pemerintahan China, pakar, dan awak media.

Baca Juga

"Saya yakin melalui simposium ini, kami bisa mengumpulkan banyak gagasan dan saran untuk mendukung peningkatan kerja sama pencegahan dan mitigasi bencana di ASEAN dan China," kata Sekretaris Jenderal ACC Chen Dehai.

Ia menganggap, Asia merupakan kawasan paling rentan mengalami bencana alam. China telah mendukung implementasi Kesepakatan ASEAN untuk Program Kerja Penanganan dan Tanggap Darurat Bencana 2021-2025.

China juga mendukung Komite ASEAN untuk Penanganan Bencana dan Pusat Koordinasi ASEAN untuk Bantuan Kemanusiaan.

Sementara dalam Program Lima Tahunan China Periode ke-14 untuk Penanggulangan dan Mitigasi Bencana hingga 2035, pemerintah setempat telah menetapkan modernisasi sistem pengendalian dan penanggulangan bencana alam agar bisa memberikan manfaat bagi masyarakat di kawasan.

"Jadi, ketika bencana datang, ketangguhan masyarakat dengan cepat mampu memulihkan fungsi sosial, infrastruktur, dan ekonomi," kata Chen.

Oleh sebab itu, menurut dia, penguatan kerja sama dalam memantau risiko bencana, peringatan dini, kesiapsiagaan menghadapi bencana, tanggap darurat, dan pemulihan pascabencana sangat diperlukan.

Dalam simposium tersebut, Tunggul Wicaksono, peneliti dari Pusat Studi ASEAN pada Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menyampaikan presentasi secara daring berjudul "Sekilas tentang Manajemen Risiko Bencana".

Dia memaparkan tentang manajemen penanganan bencana di beberapa negara ASEAN, seperti tsunami di Aceh pada tahun 2004, banjir di Thailand (2011), dan topan Haiyan di Filipina (2013).

Para pembicara sepakat, kerja sama penanganan bencana harus ditingkatkan, mengingat China dan negara-negara ASEAN berada di dalam peta rawan bencana, terutama gempa bumi.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA