Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Setelah Satu Dekade, Kini Muslim Kosovo Minta Larangan Jilbab di Sekolah Dicabut 

Jumat 12 Aug 2022 04:30 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Nashih Nashrullah

Muslimah Kosovo. Muslim Kosovo menuntut pencabutan larangan jilbab yang diterapkan 2010 lalu

Muslimah Kosovo. Muslim Kosovo menuntut pencabutan larangan jilbab yang diterapkan 2010 lalu

Foto: sulekha.com
Muslim Kosovo menuntut pencabutan larangan jilbab yang diterapkan 2010 lalu

REPUBLIKA.CO.ID, PRISTINA – Komunitas Islam Kosovo meminta pencabutan perintah administratif yang menolak hak pendidikan bagi siswa yang mengenakan jilbab. Masyarakat menilai kebijakan tersebut diskriminatif.

Dikutip RTK Live, Kamis (11/8/2022), kebijakan itu membuat masyarakat protes dan meminta Kementerian Pendidikan dan Perdana Menteri Albin Kurti membatalkan keputusan itu secepatnya.

Baca Juga

Komunitas Islam Kosovo mengklaim permintaan pencabutan itu sudah berlangsung lama sehingga tidak boleh dipolitisasi dan dipolarisasikan.

Namun, ini perlu diperlakukan dengan tanggung jawab yang maksimal. Larangan jilbab di sekolah telah memicu reaksi keras di Kosovo sejak diberlakukan pada 2010 lalu. Sebelumnya, protes juga telah diselenggarakan di depan lembaga-lembaga pemerintah.

Kosovo merupakan negara yang terletak di tenggara Eropa. Berdasarkan data sensus tahun 2011, lebih dari 95,6 persen populasi Kosovo adalah Muslim. Sisanya adalah Kristen Ortodoks, Katolik, dan tidak beragama. Sebagian besar Muslim Kosovo adalah etnis Albania dan sebagian kecil etnis Slavia. 

Namun, jangan heran dan sudah menjadi rahasia umum Islam di negara yang terletak di tenggara Eropa ini dikenal sebagai Islam paling liberal di dunia selama beberapa dekade, bahkan hingga sekarang. Negara ini tidak memiliki agama resmi.

Konstitusi menetapkan Kosovo sebagai negara sekuler yang netral dalam hal keyakinan agama.

Semua orang sama di depan hukum dan bebas menjalani keyakinannya berdasarkan hati nurani. Bagi warga Kosovo, agama adalah domain pribadi bukan urusan publik. Oleh karena itu, banyak pihak yang menyangsikan Kosovo sebagai negara mayoritas Muslim. 

Muslim Kosovo mengaku, mereka tidak betul-betul mempraktikkan keyakinan mereka seperti Muslim di negara mayoritas lainnya. Di negara ini akan sulit ditemukan perempuan Muslim yang mengenakan jilbab dan alkohol dijual secara bebas.  

 Kendati demikian, memang semangat keislaman tampak mulai menggeliat. Setelah runtuhnya Yugoslavia, kebangkitan agama mulai terlihat di Kosovo.

Orang- orang menjadi lebih religius daripada yang disaksikan dalam kurun waktu 60 atau 70 tahun terakhir. Setelah perang 1999, terdapat 200 masjid di Kosovo.

Dan, saat ini diper kirakan telah ada lebih dari 800. Sebuah masjid baru dibangun setiap bulan. Ini menandakan adanya kebangkitan agama di Kosovo. Khususnya untuk mempraktikkan nilai-nilai Islam. Semakin banyak pemuda yang mengunjungi masjid.

 

Sumber: rtklive  

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA