Wednesday, 9 Rabiul Awwal 1444 / 05 October 2022

Stunting Perlambat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Kamis 11 Aug 2022 21:05 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Andi Nur Aminah

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, saat membuka Rapat Kerja Nasional Tahun 2022 secara virtual, Selasa (22/2).

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, saat membuka Rapat Kerja Nasional Tahun 2022 secara virtual, Selasa (22/2).

Foto: BKKBN
Jika tak ditangani dengan tepat, dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Stunting atau gagal tumbuh kembang pada anak disebut memiliki efek domino terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Karena itu, apabila tidak ditangani dengan tepat, stunting dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

"Stunting atau gagal tumbuh kembang pada anak ternyata memiliki efek domino terhadap pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Stunting bisa memperlambat partumbuhan ekonomi Indonesia," ujar Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, dalam keterangannya, Kamis (11/8/2022).

Baca Juga

Hasto menjelaskan, stunting berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, dan dapat menurunkan produktifitas seseorang. Tidak hanya itu, secara makro dampak yang ditimbulkan dari stunting adalah lambatnya pertumbuhan ekonomi, meningkatnya angka kemiskinan, dan terjadinya ketimpangan sosial.

Hasto menyebutkan, kerugian yang dialami negara dari adanya stunting adalah hilangnya 11 persen growth domestic product (GDP) hingga berkurangnya pendapatan orang dewasa hingga 20 persen. Tidak hanya itu, jurang kesenjangan sosial juga semakin terbuka lebar akibat stunting dan mengurangi 10 persen dari total pendapatan seumur hidup, serta timbulnya kemiskinan antargenerasi.

Berdasarkan data Organisation for Economic Cooperation and Development-Programme for International Student Assessment (OECD-PISA) tahun 2012, tingkat kecerdasan anak Indonesia ada diurutan ke 64 terendah dari 65 negara. OECD-PISA sendiri melakukan penelitian dari 510.000 pelajar usia 15 tahun di 65 negara, termasuk Indonesia di dalamnya yang meliputi bidang membaca, matematika, dan sains.

Untuk menekan tingginya prevalensi stunting yang saat ini masih di angka 24,4 persen, BKKBN telah melakukan berbagai intervensi melalui kegiatan pendampingan keluarga. Mulai dari calon pengantin (catin), ibu hamil, pascapersalinan, anak 0 hingga lima tahun, di mana anak usia 0 hingga dua tahun menjadi prioritas.

Kepada catin, Hasto berpesan supaya laki-laki yang ingin menikah mengurangi kebiasaannya untuk merokok, menjaga pola makannya agar dapat menghasilkan sperma yang berkualitas 75 hari sebelum pernikahan. Sementara pada perempuan, disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di fasilitas kesehatan terdekat untuk mengukur lingkar lengan atas, berat badan, dan tinggi badan, juga kadar hemoglobin (Hb) dalam darah.

Semua itu Hasto sebut sangat penting menjadi perhatian seluruh keluarga di Indonesia supaya dapat menghasilkan kehamilan berkualitas. Dengan upaya itu pula, berbagai masalah mendapatkan penanganan langsung oleh pihak medis sejak awal. Selain itu, juga dapat mengurangi terjadinya risiko kematian pada ibu dan bayi maupun terjadinya kekurangan gizi pada anak sejak dalam kandungan yang menyebabkan stunting.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA