Saturday, 16 Jumadil Awwal 1444 / 10 December 2022

Dubes China Ingatkan Australia Bersikap Hati-Hati dalam Urusan Taiwan

Rabu 10 Aug 2022 17:49 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Friska Yolandha

Duta Besar China untuk Australia, Xiao Qian, berbicara di National Press Club di Canberra, Australia, Rabu, 10 Agustus 2022.

Duta Besar China untuk Australia, Xiao Qian, berbicara di National Press Club di Canberra, Australia, Rabu, 10 Agustus 2022.

Foto: Mick Tsikas/AAP Image via AP
Pemerintah Australia yang baru telah membuat awal baik untuk hubungannya dengan China

REPUBLIKA.CO.ID, CANBERRA -- Duta Besar China untuk Australia Xiao Qian mengatakan pada Rabu (10/8), perubahan pemerintahan Australia baru-baru ini adalah kesempatan untuk mengatur ulang hubungannya yang bermasalah dengan China. Dia memberikan sorotan tentang sikap Canberra yang harus berhati-hati dalam menanggapi masalah Taipei.

"Kami berharap pihak Australia dapat menyikapi hubungan China-Australia dengan serius. Ambil prinsip 'Satu China' dengan serius, tangani pertanyaan Taiwan dengan hati-hati," kata Xiao kepada National Press Club.

Baca Juga

Menurut Xiao, pemerintah Australia yang baru telah membuat awal yang baik untuk hubungannya dengan China usai masa sulit selama beberapa tahun. "Namun, itu hanya awal yang baik. Ada banyak yang harus dilakukan untuk benar-benar mengatur ulang hubungan ini," ujarnya.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese telah mendesak China untuk menunjukkan itikad baik terhadap pemerintah baru. Salah satu cara yang bisa ditunjukan oleh Beijing dengan mencabut serangkaian hambatan perdagangan resmi dan tidak resmi yang merugikan eksportir Canberra seninali puluhan miliar dolar.

Xiao membela hambatan yang diberlakukan dan menunjuk pada kerusakan ekonomi yang disebabkan Australia oleh raksasa telekomunikasi milik China, Huawei. Canberra telah melarang perusahan itu meluncurkan jaringan 5G di negara itu karena masalah keamanan.

Selain itu, Xiao mengaku terkejut bahwa Australia telah menandatangani pernyataan dengan Amerika Serikat (AS) dan Jepang yang mengutuk penembakan rudal China ke perairan Jepang. Tindakan itu dilakukan sebagai tanggapan atas kunjungan Ketua House of Representatives AS Nancy Pelosi ke Taiwan minggu lalu.

Perwakilan China di Australia ini tidak akan mengatakan kapan latihan militer tembakan langsung di dekat Taiwan akan berakhir. Dia mengatakan pengumuman akan dibuat pada waktu yang tepat.

China menginginkan reunifikasi damai dengan Taiwan, yang dianggap sebagai provinsi yang memiliki pemerintahan sendiri. Hanya saja, menurut Xiao, Beijing tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan.

 

sumber : AP
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA