Saturday, 5 Rabiul Awwal 1444 / 01 October 2022

Setahun Alih Kelola, Pertamina Hulu Rokan Setor Rp 30 Triliun ke Kas Negara

Senin 08 Aug 2022 22:05 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya

Suasana lokasi di Rig (alat pengeboran minyak bumi) PDSI 49 milik PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Duri, Riau, Senin (8/8/2022). PT PHR telah melakukan pengeboran di 376 sumur baru di Blok Rokan dan mampu memproduksi minyak mentah hingga 161 ribu barel per hari atau mencapai 26 persen produksi minyak nasional.

Suasana lokasi di Rig (alat pengeboran minyak bumi) PDSI 49 milik PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Duri, Riau, Senin (8/8/2022). PT PHR telah melakukan pengeboran di 376 sumur baru di Blok Rokan dan mampu memproduksi minyak mentah hingga 161 ribu barel per hari atau mencapai 26 persen produksi minyak nasional.

Foto: ANTARA/Aditya Pradana Putra
Saat ini produksi blok Rokan mencapai 161 ribu barel per hari.

REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU -- Setelah setahun alih kelola Blok Rokan dari PT Chevron Pasific Indonesia ke PT Pertamina (Persero), Pertamina mampu menyetorkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) ke negara sebesar Rp 30 triliun. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan menunjukkan kontribusi besar dari blok minyak Rokan terhadap perekonomian nasional selama satu tahun terakhir.

Saat perusahaan menerima alih kelola Blok Rokan setahun lalu dari tangan Chevron, produksinya minyaknya hanya 158 ribu barel per hari (bph). Dengan melakukan 370 pengeboran, kini produksi bisa naik ke 161 ribu bph. 

Baca Juga

"Kontribusi PHR ke produksi upstream Pertamina mencapai 30 persen, paling banyak dari Lapangan Duri dan Rumbai. Setoran pajak kita Rp 30 triliun ke negara," kata Nicke di Lapangan Duri, Blok Rokan, Riau, Selasa (8/8/2022).

Menurut Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, pencapaian tersebut diraih berkat beberapa upaya optimal yang dilakukan para perwira Subholding Upstream. Pertama, peningkatan aktivitas pengeboran dan kerja ulang sebagai upaya optimasi sumur existing.

Kedua, peningkatan aktivitas pada fasilitas produksi dan sarana pendukung. Ketiga, implementasi teknologi dan transformasi digital di Subholding Upstream Pertamina.

Salah satu upaya optimal yang ditunjukkan oleh Subholding Upstream adalah keberhasilan Pertamina Hulu Rokan dalam melaksanakan alih kelola Blok Rokan dalam satu tahun terakhir ini. "PHR mampu melewati proses transisi, mencakup cultural engagement yang meliputi penyesuaian proses bisnis, budaya kerja dan sistem manajemen keselamatan, serta sharing best practice dengan entitas Pertamina lainnya sehingga operasional Blok Rokan berjalan lancar," ujar Nicke.

Sementara itu, Direktur Utama PHR Jaffee A Suardin menyebut, setahun sebelum alih kelola, pengeboran di blok ini hanya rata-rata 105 pemboran. Saat Pertamina masuk, pengeboran ditingkatkan menjadi 370 sumur. Selama itu pula, ada 15 ribu kegiatan work over dan well intervention well services.

Aktivitas juga meningkat. Saat alih kelola, hanya ada 9 rig pengeboran. Namun saat ini sudah mencapai 21 rig dengan target akhir tahun 27 rig. Pun dengan work over well services yang saat alih kelola dilakukan hanya ada 25 rig, kini sudah mencapai 32 rig dengan target akhir tahun 52 rig.

Dengan semua usaha ini, volume cadangan saat awal transisi 320,1 mmboe, sekarang meningkat menjadi 370,2 mmboe."Dengan harga minyak yang baik ini, kita juga reinvestasikan lagi untuk eksplorasi dengan cara unkonvensional (MNK) yang pengeborannya lebih dalam. Targer akhir tahun drill dua sumur MNK ini," ujarnya.

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA